Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang menular melalui hubungan seksual baik melalui vaginal, oral maupun anal. Infeksi ini umumnya disebabkan oleh bakteri, jamur, virus dan parasit lainnya. Beberapa gejala pada kasus IMS seperti nyeri, gatal, atau ruam di area intim, namun sebagian besar kasus tidak menunjukkan gejala. Penyakit ini merupakan kondisi serius yang disebabkan oleh hubungan seksual yang tidak aman. Pada beberapa kasus penyakit IMS dapat disembuhkan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa penyakit tersebut akan kembali lagi.

Gambar 1. Beberapa mikroba penyebab IMS.
Source: https://www.upmc.com/services/womens-health/conditions/sti
Meskipun dunia medis telah mengalami banyak perkembangan, namun kita tidak dapat menampik bahwa stigma masyarakat terkait penyakit IMS seringkali membuat para penyintas menutup diri akan penyakitnya dan menolak pengobatan. Stigma masyarakat yang menganggap penyintas IMS tidak bermoral menyebabkan rasa malu pada penyintas sehingga mengisolasi diri dari dunia sosial dan meningkatkan risiko komplikasi. Dampak psikologis yang dialami oleh penyintas dimulai dari dampak psikologis hingga hambatan pengobatan sehingga penghapusan stigma negatif untuk penyintas IMS harus terus digalakkan.
Eliminasi stigma negatif untuk penyintas IMS dimulai dari edukasi seksual dan perlunya informasi yang tepat. Edukasi dan informasi ini harus dilakukan secara menyeluruh sehingga tidak lagi menimbulkan stigma untuk penyintas. Informasi yang dibutuhkan adalah bahwa IMS merupakan salah satu penyakit medis seperti halnya penyakit medis lainnya, tidak perlu dibedakan dengan penyakit lain dan juga bukanlah sebuah aib. Hal lain yang dapat membantu untuk eliminasi stigma negatif IMS adalah normalisasi tes untuk IMS dengan memasukkan tes IMS (seperti sifilis atau HIV) pada check up kesehatan rutin. Hal ini akan perlahan menggeser stigma bahwa IMS hanya didapatkan oleh manusia berperilaku buruk. Keterbukaan pada pasangan mengenai edukasi dan status IMS pada diri juga merupakan salah satu langkah penting untuk eliminasi stigma. Hal ini dapat dilakukan sebelum melakukan kegiatan seksual secara aktif sehingga mendapatkan satu pemahaman yang sama terkait IMS dengan pasangan. Hal terakhir yang juga penting terkait dengan stigma IMS adalah pembuatan kebijakan oleh pemerintah terkait edukasi untuk mengurangi diskriminasi pada penyintas IMS. Baiknya dalam perumusan kebijakan tersebut juga melibatkan peran aktif dari penyintas IMS sehingga kebijakan yang dibuat dapat tepat pada sasaran.
Dalam upaya menggeser stigma IMS, hal pertama dan harus dilakukan segera adalah edukasi seksual untuk IMS. Edukasi ini dapat dilakukan oleh siapa saja yang memiliki akses informasi terhadap IMS seperti tenaga kesehatan, aktivis seksual dan juga pengajar. Edukasi seksual terkait IMS harus segera diajarkan pada remaja yang sudah mulai tertarik dengan interaksi dengan lawan jenis. Edukasi seksual merupakan upaya pencegahan dan juga penanggulangan penyakit IMS. Pencegahan utama yang dapat dilakukan adalah dengan alat kontrasepsi sebagai salah satu alat perlindungan diri dari penularan IMS. Setia terhadap satu pasangan juga akan menurunkan probabilitas kejadian IMS. Upaya selanjutnya adalah vaksinasi seperti vaksin HPV yang dapat melindungi tubuh dari penyakit seksual hingga kanker serviks pada wanita dan kutil kelamin.
Upaya lainnya yang dapat dilakukan apabila telah melakukan kegiatan seksual secara aktif adalah skrining rutin terhadap diri sendiri dengan mengenali gejala IMS seperti munculnya ruam atau kutil pada kulit kemaluan serta kejadian tidak normal yang berkaitan dengan organ reproduksi. Skrining rutin juga dapat dilakukan secara teratur di rumah sakit sebagai salah satu hal yang dilakukan saat check up rutin. Apabila menemukan kejanggalan pada organ reproduksi segera mencari bantuan pengobatan pada fasilitas kesehatan untuk menghindari terjadinya komplikasi.
Diagnosis yang dilakukan untuk pengecekan rutin IMS adalah dengan mengambil cairan biologis tubuh seperti darah, urine dll. Diagnosis IMS dimulai dengan pemeriksaan fisik seperti area genital atau organ tubuh lainnya. Darah yang diambil kemudian dibawa ke laboratorium untuk dilakukan tes darah tes urine dan tes swab. Berikut merupakan beberapa IMS dan gejalanya yang penting diketahui:
Kami membantu menyediakan kit untuk screening dan diagnosis awal IMS yang dapat membantu memudahkan researcher maupun tenaga medis. Berikut beberapa item yang dapat kami supply:
| No | Brand | No Katalog | Nama Produk |
| 1. | Diasino | RS017702 | Anti-HIV1/2 Rapid Lateral FLow Test |
| 2. | Diasino | RS017703 | HIV Ag/Ab Combi Rapid Lateral FLow Test |
| 3. | Diasino | RS017704 | Syphilis TP Rapid Lateral FLow Test |
| 4. | Cortez Diagnostic | 1465-P1 | AccuDiag™ Syphilis (Anti-TP) IgG/IgM |
| 5. | Cortez Diagnostic | 1463-P1 | AccuDiag™ Syphilis (TPA) IgG |
| 6. | Cortez Diagnostic | 1464-6 | AccuDiag™ Syphilis (TPA) IgM |
| 7. | Cortez Diagnostic | 351010 | AccuDiag™ FTA-ABS (Syphilis) IFA Kit |
| 8. | Cortez Diagnostic | 351010-T | AccuDiag™ FTA-ABS (Syphilis) Titratable IFA Kit |
| 9. | Cortez Diagnostic | 1516-12 | HIV 1,2 ELISA Test |
| 10. | Cortez Diagnostic | 1786 | OneStep Gonorrhea RapiCard™ InstaTest |
Apabila terdapat pertanyaan dan ingin berdiskusi lebih lanjut dapat menghubungi kami disini. Terimakasih.
Source:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534780/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK558903/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534860/