Pendahuluan
Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia, dengan lebih dari 19 juta kasus baru setiap tahunnya berdasarkan data dari World Health Organization (WHO). Seiring dengan peringatan Hari Kanker Sedunia, memahami peran biomarker dalam penanganan kanker menjadi penting. Biomarker berfungsi sebagai indikator biologis yang membantu dokter mendiagnosis kanker, memprediksi prognosis, serta mendeteksi sisa penyakit yang sulit terlihat melalui pemeriksaan konvensional. Dengan kemajuan teknologi molekuler, biomarker kini menjadi pondasi precision oncology yang memungkinkan pengobatan yang lebih personal dan efektif (Liu dkk., 2025).
Selain itu, pemahaman tentang Minimal Residual Disease (MRD) — sisa sel kanker setelah terapi — memberikan informasi dini tentang risiko relapse, yang bisa membantu menentukan strategi pengobatan lanjutan. MRD ini berbeda dengan kekambuhan klinis karena biasanya belum terlihat melalui radiologi atau gejala fisik, namun kehadirannya bisa menjadi indikator bahwa sel kanker masih aktif secara molekuler (Zhu dkk., 2023).
Apa itu Biomarker dalam Kanker?
Secara sederhana, biomarker kanker adalah karakteristik biologis yang dapat diukur dan memberikan informasi tentang keberadaan atau sifat kanker dalam tubuh — misalnya DNA, RNA, protein, atau molekul lain di darah maupun jaringan tumor. Biomarker ini dapat berupa perubahan genetik (mutasi), peningkatan kadar protein tertentu, atau pola ekspresi gen yang khas pada sel kanker. Karena dapat diukur secara objektif melalui pemeriksaan laboratorium, biomarker menjadi alat penting dalam praktik onkologi modern.
Biomarker dapat membantu dokter untuk:
1. Mendiagnosis apakah pasien benar‑benar memiliki kanker
Dalam proses diagnosis, biomarker membantu dokter memastikan apakah seseorang benar-benar memiliki kanker atau tidak. Misalnya, peningkatan kadar Prostate-Specific Antigen (PSA) dapat mengarah pada kecurigaan kanker prostat, sementara mutasi tertentu pada gen seperti BRCA1 dan BRCA2 dapat menunjukkan risiko lebih tinggi terhadap kanker payudara atau ovarium. Selain itu, pemeriksaan biomarker juga dapat membantu membedakan jenis kanker dan subtipe molekulernya, yang sering kali tidak dapat ditentukan hanya dari pemeriksaan mikroskopis biasa.
2. Menentukan prognosis
Biomarker juga berperan dalam menentukan prognosis, yaitu memperkirakan bagaimana penyakit akan berkembang. Beberapa biomarker menunjukkan apakah kanker cenderung tumbuh lambat atau agresif, serta kemungkinan menyebar (metastasis). Informasi ini membantu dokter dan pasien dalam merencanakan strategi pengobatan yang paling sesuai dan realistis.
3. Memantau respon terapi dan kemungkinan kekambuhan
Selama dan setelah terapi, biomarker digunakan untuk memantau respons terhadap pengobatan. Penurunan kadar biomarker tertentu dapat menandakan bahwa terapi efektif, sedangkan peningkatan kembali setelah pengobatan selesai bisa menjadi tanda kekambuhan. Dengan demikian, pemantauan biomarker memungkinkan evaluasi yang lebih dini dan lebih akurat dibandingkan hanya mengandalkan gejala klinis.
Beberapa biomarker juga bersifat predictive, artinya membantu menentukan terapi yang paling efektif untuk pasien tertentu. Contohnya, keberadaan ekspresi berlebih protein HER2 pada kanker payudara membuat pasien berpotensi mendapatkan manfaat dari terapi target seperti trastuzumab. Pendekatan ini dikenal sebagai pengobatan presisi (precision medicine), di mana terapi disesuaikan dengan karakteristik biologis unik dari tumor setiap pasien.
Biomarker Untuk Diagnosis Kanker
Diagnosis kanker bertujuan untuk mendeteksi keberadaan sel kanker sejak dini, menentukan jenis tumor, dan membedakan jaringan sehat dari kanker. Biomarker memainkan peran krusial dalam proses ini karena mereka memberikan informasi objektif yang dapat diukur. Dengan kemajuan teknologi molekuler, biomarker kini dapat diperoleh melalui jaringan tumor maupun sampel darah, yang disebut liquid biopsy, memberikan cara deteksi non-invasif yang semakin populer (Liu dkk., 2025).
Berikut adalah beberapa biomarker yang digunakan untuk mendiagnosis kanker.
| Kategori | Contoh Biomarker | Diagnosis Kanker | Metode Deteksi |
| DNA/RNA Molecular Markers | Mutasi EGFR | Kanker paru non-sel kecil | PCR, next-generation sequencing (NGS), digital PCR. |
| Mutasi KRAS | Kanker kolorektal | ||
| Fusi BCR-ABL1 | Leukemia kronis (CML) | ||
| Protein Biomarkers | HER2, ER, PR | Kanker payudara | Immunohistochemistry (IHC), ELISA, Flowcytometry |
| PD-L1 | Berbagai kanker, prediktif imunoterapi | ||
| PSA | Kanker prostat | ||
| Liquid Biopsy (ctDNA) | Deteksi fragmen DNA tumor yang beredar dalam darah, non-invasif, semakin banyak dipakai untuk deteksi dini tumor solid. Fragmen DNA tumor yang beredar di darah, memungkinkan deteksi dini kanker padat tanpa biopsi invasif. |
Biomarker Untuk Prognosis Kanker
Prognostic biomarker adalah penanda biologis yang memberikan informasi mengenai kemungkinan perjalanan alami suatu kanker, termasuk risiko kekambuhan (relapse), potensi metastasis, dan peluang kelangsungan hidup pasien secara keseluruhan. Berbeda dengan biomarker prediktif yang membantu menentukan pilihan terapi tertentu, biomarker prognostik lebih berfokus pada seberapa agresif penyakit tersebut dan bagaimana kemungkinan perkembangannya, terlepas dari jenis terapi yang diberikan.
Biomarker ini dapat berupa ekspresi protein, mutasi gen, perubahan kromosom, maupun pola ekspresi gen tertentu dalam jaringan tumor atau cairan tubuh. Misalnya, indeks proliferasi seperti Ki-67 yang tinggi sering dikaitkan dengan pertumbuhan tumor yang cepat dan prognosis yang lebih buruk. Demikian pula, mutasi pada gen penekan tumor seperti TP53 pada berbagai jenis kanker sering berhubungan dengan perjalanan penyakit yang lebih agresif.
Informasi dari biomarker prognostik sangat penting dalam pengambilan keputusan klinis. Dengan mengetahui tingkat risiko pasien—apakah termasuk risiko rendah, sedang, atau tinggi—dokter dapat menyesuaikan intensitas terapi. Pasien dengan risiko tinggi mungkin memerlukan terapi yang lebih agresif atau pemantauan yang lebih ketat, sedangkan pasien dengan risiko rendah dapat menghindari pengobatan berlebihan (overtreatment) yang berpotensi menimbulkan efek samping yang tidak perlu.
Selain itu, biomarker prognostik juga berperan dalam stratifikasi pasien dalam penelitian klinis, sehingga kelompok pasien dengan karakteristik risiko yang serupa dapat dibandingkan secara lebih akurat. Dengan demikian, penggunaan biomarker prognostik mendukung pendekatan pengobatan yang lebih personal dan berbasis risiko, sekaligus meningkatkan efisiensi dan ketepatan strategi terapi kanker.
Berikut adalah tabel contoh biomarker kanker untuk prognosis dan fungsinya.
| Biomarker | Jenis Biomarker | Terkait pada Kanker | Makna Klinis / Kegunaan |
| Ki-67 | Prognostik | Berbagai tumor (misalnya kanker payudara, limfoma) | Menunjukkan tingkat proliferasi sel. Apabila nilainya tinggi, maka tumor lebih agresif dan cepat tumbuh. |
| TP53 mutation | Prognostik | Berbagai jenis kanker | Berhubungan dengan prognosis lebih buruk karena gangguan kontrol siklus sel & perbaikan DNA. |
| FLT3-ITD | Prognostik / Prediktif | Acute Myeloid Leukemia (AML) | Dikaitkan dengan risiko tinggi relaps; mempengaruhi pilihan terapi target. |
| NPM1 mutation | Prognostik | Acute Myeloid Leukemia (AML) | Dapat menandakan prognosis yang lebih baik (tergantung kombinasi mutasi lain). |
| MSI-H (Microsatellite Instability-High) | Prognostik / Prediktif | Kanker kolorektal (juga kanker lain tertentu) | Memprediksi respons baik terhadap imunoterapi (checkpoint inhibitors). |
| Oncotype DX | Prediktif | Kanker payudara | Panel ekspresi gen untuk memprediksi risiko kekambuhan dan kebutuhan kemoterapi. |
| PAM50 | Prediktif / Prognostik | Kanker payudara | Mengklasifikasikan subtipe molekuler dan memprediksi risiko relaps. |
Minimal Residual Diseases
Minimal Residual Disease (MRD) adalah sisa sel kanker dalam jumlah sangat kecil yang masih bertahan setelah terapi selesai dan pasien dinyatakan dalam remisi lengkap. MRD berbeda dari kekambuhan klinis karena tidak terdeteksi melalui pemeriksaan standar seperti imaging (CT-scan, MRI) atau pemeriksaan laboratorium rutin. Deteksinya memerlukan metode yang sangat sensitif hingga tingkat molekuler.
MRD paling banyak digunakan pada kanker hematologi seperti leukemia dan multiple myeloma, tetapi kini juga berkembang pada tumor padat melalui analisis DNA tumor dalam darah (liquid biopsy). Keberadaan MRD positif umumnya dikaitkan dengan risiko relapse yang lebih tinggi dan waktu kekambuhan yang lebih cepat. Sebaliknya, MRD negatif menunjukkan respons terapi yang baik, meskipun tidak menjamin bebas kanker sepenuhnya. Oleh karena itu, pemantauan berkala tetap diperlukan. Pada beberapa studi, terutama menggunakan ctDNA, MRD dapat mendeteksi tanda kekambuhan 3–12 bulan lebih awal dibandingkan pemeriksaan radiologis, sehingga membuka peluang intervensi dini sebelum muncul gejala klinis.
Berikut adalah beberapa metode MRD yang untuk pengujian.
| Metode MRD | Digunakan pada | Prinsip Deteksi | Makna Klinis |
| BCR-ABL1 qPCR | Chronic Myeloid Leukemia (CML) | Mengukur transkrip gen fusi BCR-ABL1 secara kuantitatif | Menilai kedalaman respons terapi; adanya peningkatan kadar sebagai adanya tanda kekambuhan molekuler |
| Flow cytometry immunophenotyping | Acute Myeloid Leukemia (AML), Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) | Mendeteksi sel leukemia berdasarkan penanda permukaan sel (immunophenotype) | Identifikasi sel residual dengan sensitivitas tinggi setelah kemoterapi |
| NGS mutation tracking | AML, Multiple Myeloma | Melacak mutasi spesifik pasien menggunakan sequencing | Deteksi molekuler sangat sensitif; membantu prediksi risiko relapse |
| ctDNA (circulating tumor DNA) | Lung Cancer, Breast Cancer, Colorectal Cancer | Mendeteksi fragmen DNA tumor dalam darah (liquid biopsy) | Dapat mendeteksi relapse lebih dini dibanding imaging |
Berikut adalah ringkasan konsep MRD.
| Status MRD | Arti Klinis | Implikasi |
| MRD Positif | Masih ada sel kanker residual | Risiko relapse lebih tinggi; perlu terapi lanjutan atau monitoring ketat |
| MRD Negatif | Tidak terdeteksi dengan metode sensitif | Prognosis lebih baik, tetapi tetap perlu follow-up secara berkala |
Produk Pengujian dari PT Indogen Intertama
Produk molecular assay seperti GENMARK mampu mendeteksi mutasi EGFR pada kanker paru, KRAS pada kanker kolorektal, maupun BCR-ABL1 pada leukemia kronis menggunakan PCR, sementara Cortez Diagnostics menyediakan platform ELISA untuk deteksi protein spesifik terkait kanker. Dengan sensitivitas tinggi, teknologi ini dapat mengidentifikasi sel kanker bahkan dalam jumlah kecil, yang menjadi dasar untuk deteksi dini.
Selain itu, molekular assay juga membantu monitoring MRD, misalnya mendeteksi BCR-ABL1 sisa pasca terapi pada pasien CML. Deteksi molekuler yang presisi ini memungkinkan dokter mengambil keputusan terapi lebih cepat sebelum relapse klinis terjadi. Secara ringkas, produk molekular memberikan pendekatan diagnosis dan monitoring yang sangat sensitif, mendukung konsep precision oncology yang menyesuaikan terapi berdasarkan profil genetik pasien.
Berikut adalah produk yang dapat PT Indogen suplai untuk mendukung pengujian di laboratorium.
Brand GENMARK
GenMark Diagnostics, Inc. adalah molecular diagnostics company yang dikenal secara global sebagai penyedia solusi diagnostik molekuler, termasuk teknologi multiplex PCR dan panel panel diagnostik untuk berbagai aplikasi klinis.
| No. Katalog | Nama Produk | Target Deteksi / Aplikasi Klinis |
| BCR190-RT48 | geneMAP™ BCR-ABL1 p190 (mbcr) Detection Kit | Deteksi/transkripsi BCR-ABL1 p190 (MRD, ALL) |
| BCR210-RT48 | geneMAP™ BCR-ABL1 p210 (Mbcr) IS-MMR Detection Kit | Kuantifikasi BCR-ABL1 p210 (MRD, CML monitoring) |
| BCR230-RT48 | geneMAP™ BCR-ABL1 p230 (μbcr) Detection Kit | Kuantifikasi BCR-ABL1 p230 (MRD) |
| BCRSCR-RT48 | geneMAP™ BCR-ABL1 (p190, p210, p230) Screening Kit | Deteksi multiplex ketiga varian BCR-ABL1 sekaligus |
| AML1-RT24 | geneMAP™ RUNX1-RUNX1T1 t(8;21) Detection Kit | Deteksi fusion RUNX1-RUNX1T1 (AML) |
| E2A-RT24 | geneMAP™ TCF3/PBX1 t(1;19) Detection Kit | Deteksi TCF3-PBX1 (ALL) |
| MLL-RT24 | geneMAP™ MLL-AF4 t(4;11) Detection Kit | Deteksi MLL-AF4 (ALL) |
| TEL-RT24 | geneMAP™ TEL-AML1 t(12;21) Detection Kit | Deteksi TEL-AML1 (ALL) |
| CBF-RT24 | geneMAP™ CBFB-MYH11 Inv(16) Detection Kit | Deteksi CBFB-MYH11 (AML) |
| PML-RT24 | geneMAP™ PML-RARA t(15;17) bcr1 & bcr2, bcr3 Detection Kit | Deteksi PML-RARA (APL) |
| MPL-RT25 | geneMAP™ MPL W515A/L/K/R Mutation Detection Kit | Mutasi MPL (hematologic) |
| NPMQ-RT24 | geneMAP™ NPM1 (MutA,B,C&D) Mutation Detection Kit | Deteksi mutasi NPM1 (AML) |
| FLT3-RT25 | geneMAP™ FLT3 D835Y Mutation Detection Kit | Mutasi FLT3 D835Y (AML) |
| FLT3-FA25 | geneMAP™ FLT3 ITD/D835Y Mutation Detection Kit | Deteksi FLT3 ITD + D835Y (AML) |
| WT1-RT24 | geneMAP™ WT1 Expression Analysis Kit | WT1 ekspresi (prognostic/monitoring) |
| PDL-RT24 | geneMAP™ PD-L1 Expression Analysis Kit | PD-L1 ekspresi (prediktif imunoterapi) |
| HER-RT24 | geneMAP™ HER2 Expression Analysis Kit | HER2 ekspresi (kanker payudara) |
| FIP1-RT24 | geneMAP™ FIP1L1-PDGFRA Detection Kit | Fusion FIP1L1-PDGFRA |
| CALR-RT25 | geneMAP™ CALR Mutation Screening Kit | Mutasi CALR (hematology) |
| IDH-RT25 | geneMAP™ IDH1/2 Mutations Detection Kit | Mutasi IDH1/2 |
| cKIT-RT25 | geneMAP™ c-KIT D816V Mutation Detection Kit | Mutasi c-KIT D816V |
Brand Cortez Diagnostics
Cortez Diagnostics, bagian dari Diagnostic Automation, Inc. (AS), adalah perusahaan bioteknologi yang mengkhususkan diri pada kit diagnostik in vitro, terutama tumor marker ELISA. Produk unggulannya, AccuDiag™, digunakan untuk screening, monitoring terapi, dan follow-up pasien kanker.
| No. Katalog | Nama Produk | Target/Biomarker | Deskripsi Singkat |
| 4222‑15 | AccuDiag™ PSA | Prostate‑Specific Antigen (PSA) | Deteksi kadar PSA total untuk screening/monitoring kanker prostat. |
| 4322-P1 | AccuDiag™ Free PSA | Free PSA | Mengukur fraksi PSA bebas (lebih spesifik untuk risiko kanker prostat). |
| 5101-P1 | AccuDiag™ AFP | Alpha‑Fetoprotein | Digunakan untuk penanda tumor hati & germ cell tumor. |
| 5201‑P1 | AccuDiag™ CEA | Carcinoembryonic Antigen | Tumor marker pada kanker gastrointestinal & lainnya. |
| 6333‑P1 | AccuDiag™ CA‑15‑3 | Carbohydrate Antigen 15‑3 | Umum dipakai untuk monitoring kanker payudara. |
| 6909‑P1 | AccuDiag™ CA‑19‑9 | Carbohydrate Antigen 19‑9 | Dipakai untuk kanker pankreas & GI lainnya. |
| 6502‑P1 | AccuDiag™ CA‑12‑5 | Carbohydrate Antigen 12‑5 | Tumor marker terutama untuk kanker ovarium. |
| 4200‑P2 | AccuDiag™ Beta 2‑Microglobulin | β2‑Microglobulin | Marker prognostik pada beberapa kanker darah. |
Untuk pertanyaan produk dan stock lebih lanjut Bapak/Ibu dapat menghubungi kontak yang tertera pada laman website Indogen berikut. Terima kasih.
Referensi :
Liu, H., Karsidag, I., Golin, R., & Wu, G. (2025). Bridging Discovery and Treatment: Cancer Biomarker. Cancers, 17(22), 3720. https://doi.org/10.3390/cancers17223720
Zhu, L., Xu, R., Yang, L., Shi, W., Zhang, Y., Liu, J., Li, X., Zhou, J., & Bing, P. (2023). Minimal residual disease (MRD) detection in solid tumors using circulating tumor DNA: A systematic review. Frontiers in Genetics, 14, 1172108. https://doi.org/10.3389/fgene.2023.1172108
Artikel Terkait