Pendahuluan
Nyamuk merupakan salah satu vektor penting dalam penularan berbagai penyakit infeksi. Menurut World Health Organization (WHO), penyakit yang ditularkan melalui vektor menyumbang lebih dari 17% dari seluruh penyakit infeksi dan menyebabkan lebih dari 700.000 kematian setiap tahunnya. Beban penyakit ini terutama banyak ditemukan di wilayah tropis dan subtropis, termasuk kawasan Asia Tenggara.
Di Indonesia, dengue masih menjadi salah satu penyakit yang mendapat perhatian dalam pengendalian penyakit tular nyamuk. Kementerian Kesehatan RI melaporkan bahwa pada tahun 2024 tercatat lebih dari 1.400 kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD), sementara hingga Mei 2025 telah tercatat lebih dari 56.000 kasus dengan 250 kematian.
Selain dengue, malaria dan filariasis limfatik juga menjadi bagian penting dalam penelitian penyakit yang ditularkan melalui nyamuk. Untuk malaria, WHO memperkirakan terdapat sekitar 249 juta kasus secara global dengan lebih dari 608.000 kematian per tahun. Sementara itu, filariasis limfatik dapat menyebabkan gangguan kronis dan kecacatan jangka panjang pada penderitanya.

Gambar 1. Jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh nyamuk (Cusabio)
Dalam penelitian penyakit tular nyamuk, berbagai pendekatan dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai keberadaan patogen, antigen, antibodi, materi genetik, maupun respons imun terhadap infeksi. Beberapa metode yang umum digunakan antara lain pemeriksaan mikroskopis, Rapid Diagnostic Test (RDT), Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA), Polymerase Chain Reaction (PCR), dan metode amplifikasi asam nukleat lainnya.
Pemilihan metode tidak hanya bergantung pada jenis penyakit, tetapi juga pada target yang ingin dianalisis, jenis sampel, fase infeksi, serta tujuan penelitian. Oleh karena itu, pemahaman terhadap prinsip masing-masing metode menjadi bagian penting dalam merancang penelitian penyakit tular nyamuk.
Peran ELISA dan Metode Molekuler dalam Penelitian Penyakit Tular Nyamuk
Secara umum, ELISA digunakan untuk mendeteksi atau mengukur target berbasis protein, seperti antigen maupun antibodi. Dalam penelitian infeksi, pendekatan ini dapat digunakan untuk mempelajari keberadaan antigen patogen, respons antibodi terhadap infeksi, maupun interaksi antara target tertentu dengan antibodi. Sementara itu, metode molekuler seperti PCR dan quantitative PCR (qPCR) mendeteksi materi genetik target. Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi DNA atau RNA patogen dan, tergantung pada desain assay, melakukan deteksi secara kualitatif maupun kuantitatif.
Kedua pendekatan tersebut memberikan jenis informasi yang berbeda. ELISA dapat memberikan gambaran mengenai target protein atau respons imun, sedangkan metode molekuler berfokus pada keberadaan materi genetik. Karena itu, keduanya dapat digunakan secara saling melengkapi dalam penelitian.
| Penyakit | ELISA | Metode Molekuler | Fokus Penelitian |
| Malaria | Mempelajari antigen/protein Plasmodium dan respons antibodi terhadap target tertentu, seperti AMA-1, merozoite surface proteins, dan histidine-rich protein. | PCR/NAAT untuk mendeteksi materi genetik Plasmodium. Dapat digunakan untuk mendukung deteksi infeksi dengan densitas parasit rendah, genotyping, dan penelitian terkait resistensi obat. | Deteksi dan karakterisasi Plasmodium, studi antigen, respons imun, serta penelitian molekuler. |
| Demam Berdarah Dengue | Mempelajari antigen/protein dengue virus serta respons antibodi terhadap infeksi. | RT-PCR/qRT-PCR untuk mendeteksi materi genetik dengue virus dan mendukung penelitian karakterisasi genetik serta epidemiologi. | Deteksi virus, studi respons imun, karakterisasi virus, dan penelitian epidemiologi. |
| Filariasis | Mempelajari antigen atau antibodi yang berkaitan dengan infeksi filaria serta respons imun host. | PCR untuk mendeteksi DNA filaria pada sampel seperti darah manusia atau nyamuk. | Deteksi dan identifikasi filaria, studi respons imun, serta penelitian epidemiologi dan surveillance. |
Sebagai contoh pada malaria, WHO merekomendasikan diagnosis berbasis parasit menggunakan microscopy atau RDT pada pasien yang dicurigai malaria. Microscopy juga memungkinkan identifikasi spesies dan stadium parasit serta estimasi parasite density. Sementara itu, Nucleic Acid Amplification Tests (NAATs) dapat memberikan sensitivitas lebih tinggi untuk mendeteksi infeksi dengan densitas parasit rendah dan memiliki aplikasi dalam penelitian epidemiologi maupun molekuler.
Pada dengue, pemilihan pemeriksaan juga perlu mempertimbangkan fase penyakit, jenis sampel, paparan sebelumnya, dan faktor lainnya. WHO mencantumkan Nucleic Acid Amplification Tests (NAATs), ELISA, dan Rapid Diagnostic Tests sebagai bagian dari pilihan pengujian laboratorium dengue. Sementara pada filariasis limfatik, pemeriksaan dapat diarahkan pada antigen, antibodi, maupun DNA parasit. WHO menyebutkan bahwa DNA mikrofilaria dapat dideteksi pada darah manusia maupun nyamuk menggunakan metode berbasis PCR untuk kebutuhan laboratorium dan penelitian.
Deteksi dan Penilaian Malaria
Malaria merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh Plasmodium dan ditularkan terutama melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Hingga saat ini, terdapat lima spesies Plasmodium yang diketahui dapat menyebabkan malaria pada manusia, dengan Plasmodium falciparum (P. falciparum) dan Plasmodium vivax (P. vivax) sebagai dua spesies utama penyebab penyakit. P. falciparum merupakan spesies malaria yang paling banyak ditemukan di kawasan Afrika, sedangkan P. vivax lebih banyak ditemukan di wilayah di luar Afrika sub-Sahara.
Penelitian malaria tidak hanya berfokus pada pemahaman mekanisme infeksi, tetapi juga pada pengembangan obat antimalaria dan vaksin baru. Sejumlah protein dan enzim pada Plasmodium menjadi target penelitian, antara lain CLK3, PKG, GGPPS, FRS, PRS, ACS, dan ClRS. Penelitian malaria saat ini tidak hanya berfokus pada pengembangan obat antimalaria dan vaksin, tetapi juga pada identifikasi berbagai target molekuler yang berperan dalam kelangsungan hidup Plasmodium. Beberapa target yang banyak diteliti antara lain CLK3, PKG, GGPPS, FRS, PRS, ACS, dan ClRS. Selain itu, penelitian juga mengeksplorasi protein dan enzim lain yang berperan dalam metabolisme serta perkembangan P. falciparum, seperti PfHT1 dan PfHDAC1, sebagai target potensial dalam pengembangan kandidat antimalaria.
Sebagai bagian dari dukungan terhadap penelitian malaria, CUSABIO menyediakan berbagai recombinant proteins dan antibodi yang menargetkan protein Plasmodium. Berikut beberapa produk CUSABIO yang dapat digunakan untuk mendukung penelitian terkait malaria.
| Product Name | Code | Target | Detection Range | Sensitivity |
| Rat Angiotensin converting enzyme 2, ACE2 ELISA Kit | CSB-E14308r | ACE2 | 0.02 ng/ml – 20 ng/ml | 0.02 ng/ml |
| Human Angiotensin converting enzyme 2, ACE2 ELISA Kit | CSB-E04489h | ACE2 | 0.156 ng/mL-10 ng/mL | 0.039 ng/mL |
| Mouse Angiotensin converting enzyme 2(ACE2)ELISA Kit | CSB-E17204m | ACE2 | 6.25 pg/mL-400 pg/mL | 1.56 pg/mL |
| Human RAC-alpha serine/threonine-protein kinase(AKT1) ELISA kit | CSB-EL001553HU | AKT1 | 0.312 ng/mL-20 ng/mL | 0.078 ng/mL |
| Bovine Albumin(Alb) ELISA kit | CSB-E08664b | ALB | 0.313 μg/mL-80 μg/mL | 0.148 μg/mL |
| Mouse Albumin (Alb)ELISA Kit | CSB-E13878m | ALB | 0.781 μg/mL-200 μg/mL | 0.110 μg/mL |
| Dog Albumin(Alb) ELISA Kit | CSB-E15757c | ALB | 0.273 μg/mL-35 μg/mL | 0.266 μg/mL |
| Sheep Albumin (Alb)ELISA Kit | CSB-E15839Sh | ALB | 350 μg/mL-21.88 μg/mL | 5.5 μg/mL |
| Horse Albumin(Alb) ELISA Kit | CSB-E16205Hs | ALB | 1.25 μg/mL-80 μg/mL | 1.247 μg/mL |
| Pig Albumin (Alb) ELISA Kit | CSB-E16207p | ALB | 0.03 μg/mL-7000 μg/mL | 0.03 μg/mL |
| Goat Albumin (Alb)ELISA Kit | CSB-E15758G | ALB | 0.17 μg/mL-350 μg/mL | 0.17 μg/mL |
| Guinea Pig Albumin(Alb) ELISA kit | CSB-E15765Gp | ALB | 0.156 μg/mL-10 μg/mL | 0.09 μg/mL |
| Rabbit Albumin(Alb) ELISA Kit | CSB-E16204Rb | ALB | 0.273 μg/mL-70 μg/mL | 0.117 μg/mL |
| Human cluster of differentiation 4,CD4 ELISA Kit | CSB-E08956h | CD4 | 0.625 ng/mL-40 ng/mL | 0.156 ng/mL |
| Rat cluster of differentiation 4,CD4 ELISA Kit | CSB-E12928r | CD4 | 0.78 U/mL-50 U/mL | 0.195 U/mL |
| Chicken Cluster of Differentiation 4(CD4) ELISA Kit | CSB-E13114C | CD4 | 3.125 ng/mL-800 ng/mL | 3.125 ng/mL |
| Human Cluster of differentiation 8,CD8 ELISA Kit | CSB-E12707h | CD8A | 62.5 U/mL-4000 U/mL | 15.6 U/mL |
| Mouse C-Reactive Protein,CRP ELISA Kit | CSB-E07923m(1) | CRP | 5 ng/mL-4000 ng/mL | 5 ng/mL |
| Rabbit C-Reactive Protein,CRP ELISA Kit | CSB-E06847Rb | CRP | 7.8 pg/mL-2000 pg/mL | 2 pg/mL |
| Rat C-Reactive Protein,CRP ELISA Kit | CSB-E07922r | CRP | 31.25 ng/mL-2000 ng/mL | 7.81 ng/mL |
| Mouse C-Reactive Protein,CRP ELISA Kit | CSB-E07923m | CRP | 15.6 ng/mL-1000 ng/mL | 3.9 ng/mL |
| Pig C-reactive protein,CRP ELISA Kit | CSB-E08163p | CRP | 0.625 ng/mL-40 ng/mL | 0.156 ng/mL |
| Bovine C-reactive protein,CRP ELISA Kit | CSB-E08577b | CRP | 1.25 ng/mL-80 ng/mL | 1.25 ng/mL |
| Canine C-Reactive Protein,CRP ELISA Kit | CSB-E14262c | CRP | 0.312 μg/mL-20 μg/mL | 0.078 μg/mL |
| Sheep C-reactive protein(CRP) ELISA Kit | CSB-E15081Sh | CRP | 0.625 μg/mL-40 μg/mL | 0.156 μg/mL |
| Hamster C-reactive protein(CRP) ELISA Kit | CSB-EL005991HA | CRP | 12.5 ng/mL-800 ng/mL | 3.12 ng/mL |
| Human Interleukin 8,IL-8 ELISA KIT | CSB-E04641h | CXCL8 | 31.25 pg/mL-2000 pg/mL | 7.110 pg/mL |
| Pig interleukin 8,IL-8 ELISA Kit | CSB-E06787p | CXCL8 | 125 pg/mL-8000 pg/mL | 31.25 pg/mL |
| Dog Interleukin-8,IL-8 ELISA Kit | CSB-E08052c | CXCL8 | 0.312 ng/mL-20 ng/mL | 0.146 ng/mL |
| Rabbit Interleukin 8,IL-8 ELISA Kit | CSB-E06905Rb | CXCL8 | 23.5 pg/mL-1500 pg/mL | 5.8 pg/mL |
| Monkey Interleukin-8,IL-8 ELISA Kit | CSB-E08051Mo | CXCL8 | 31.25 pg/mL-2000 pg/mL | 7.81 pg/mL |
| Bovine Interleukin 8,IL-8 ELISA Kit | CSB-E13052B | CXCL8 | 50 pg/mL-2000 pg/mL | 50 pg/mL |
| Guinea pig Interleukin 8,IL-8 ELISA Kit | CSB-E13096Gp | CXCL8 | 31.25 pg/mL-2000 pg/mL | 7.8 pg/mL |
| Sheep Interleukin-8,IL-8 ELISA Kit | CSB-E13202Sh | CXCL8 | 6.25 pg/mL-400 pg/mL | 1.56 pg/mL |
| Horse Interleukin 8,IL-8 ELISA Kit | CSB-E14021Hs | CXCL8 | 15.6 pg/mL-1000 pg/mL | 3.9 pg/mL |
| Chicken Interleukin 8(IL-8) ELISA Kit | CSB-E14191C | CXCL8 | 1.56 pg/mL-400 pg/mL | 0.78 pg/mL |
| Human epidermal growth factor receptor,EGFR ELISA Kit | CSB-E12124h | EGFR | 0.312 ng/mL-20 ng/mL | 0.019 ng/mL |
| Human epidermal growth factor receptor 2 (sp185/HER2) ELISA Kit | CSB-E11161h | ERBB2 | 0.156 ng/mL-10 ng/mL | 0.04 ng/mL |
| Human Alanine Aminotransferase,ALT/GPT ELISA Kit | CSB-E10082h | GPT | 15.6 uIU/mL-1000 uIU/mL | 3.9 uIU/mL |
| Rat Alanine aminotransferase(ALT) ELISA Kit | CSB-E13024r | GPT | 3.12 mIU/mL-200 mIU/mL | 0.78 mIU/mL |
| Mouse Interferon γ ,IFN-γ ELISA Kit | CSB-E04578m(1) | IFNG | 0.156 ng/mL-10 ng/mL | 0.039 ng/mL |
| Human Interferon γ (IFN-γ) ELISA Kit | CSB-E04577h | IFNG | 0.312 ng/ml-20 ng/ml | 0.078 ng/ml |
| Mouse Interferon γ ,IFN-γ ELISA Kit | CSB-E04578m | IFNG | 15.6 pg/mL-1000 pg/mL | 3.9 pg/mL |
Malaria Related Recombinant Protein
Malaria Related Antibody
| Antibody Type | Product Name | Species Reactivity | Tested Applications | Code |
| Polyclonal Antibody | AMA-1 Antibody | Plasmodium falciparum | ELISA | CSB-PA338457HA01PLT |
| Polyclonal Antibody | GDV1 Antibody | Plasmodium relictum | ELISA, WB | CSB-PA28187A0Rb |
| Monoclonal Antibody | Histidine-rich protein PFHRP-II Monoclonal Antibody | Plasmodium falciparum | ELISA | CSB-MA3564761A0m |
| Polyclonal Antibody | Histidine-rich protein PFHRP-II Antibody | Plasmodium falciparum | ELISA | CSB-PA356476HA01PLT |
| Polyclonal Antibody | L-lactate dehydrogenase Antibody | Plasmodium falciparum | ELISA | CSB-PA632935LA01PLS |
| Polyclonal Antibody | MDR1 Antibody | Plasmodium falciparum | ELISA | CSB-PA318386LA01PLT |
| Polyclonal Antibody | MSA2 Antibody | Plasmodium falciparum | ELISA | CSB-PA343481DA01EWP |
| Polyclonal Antibody | PF14_0076 Antibody | Plasmodium falciparum | ELISA | CSB-PA745322LA01EWP |
| Polyclonal Antibody | PMI Antibody | Plasmodium falciparum | ELISA, WB | CSB-PA340172ZA01PLO |
Deteksi dan Penilaian Demam Berdarah Dengue
Demam dengue (dengue fever) merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Dengue virus (DENV) dan terutama ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang terinfeksi. Gejala yang umum ditemukan antara lain demam tinggi, sakit kepala berat, nyeri otot dan sendi, serta berbagai gejala lainnya. Pada kondisi tertentu, infeksi dengue dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat, termasuk Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Dengue Shock Syndrome (DSS).
Saat ini, penelitian dengue mencakup berbagai aspek, mulai dari karakterisasi genom dan struktur protein virus, pemahaman mekanisme respons imun inang, kajian jalur pensinyalan di dalam sel inang, hingga interaksi antara virus dan sel inang. Selain itu, pengembangan obat antivirus dan vaksin dengue juga menjadi salah satu fokus penelitian.
Sejumlah penelitian mengenai dengue berfokus pada pemahaman mekanisme infeksi serta pengembangan strategi pencegahan dan pengobatan. Beberapa topik yang banyak dikaji meliputi peran protease virus dalam proses replikasi, respons imun terhadap berbagai serotipe DENV, identifikasi epitop yang berpotensi menjadi target vaksin, serta pengembangan kandidat vaksin berbasis multi-epitope immunogen. Berbagai pendekatan tersebut terus dikembangkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai interaksi virus dengan sel inang dan mendukung pengembangan strategi vaksinasi dengue.
Berikut adalah produk Cusabio yang dapat mendukung penelitian Dengue.
Dengue Fever Related Recombinant Protein
| Target | Product Name | Source | Tag Info | Code |
| N/A | Recombinant Dengue virus type 2 Genome polyprotein, partial | Yeast | N-terminal 6xHis-tagged | CSB-YP530838DCF |
| N/A | Recombinant Dengue virus 2 Genome polyprotein (T2493G,G2494S,I2762T), partial | E.coli | N-terminal 6xHis-tagged | CSB-EP2239GLD(M) |
| N/A | Recombinant Dengue virus type 2 Genome polyprotein (Q1642N), partial | E.coli | N-terminal 6xHis-tagged | CSB-EP3044GLD(M) |
Dengue Fever Related Antibody
| Antibody Type | Product Name | Species Reactivity | Tested Applications | Code |
| Polyclonal Antibody | Genome polyprotein Antibody | Dengue virus type 1 | ELISA | CSB-PA18549A0Rb |
Deteksi dan Penilaian Filariasis Limfatik
Filariasis limfatik (lymphatic filariasis) atau yang lebih dikenal sebagai penyakit kaki gajah merupakan penyakit parasitik yang menyerang sistem limfatik. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Infeksi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan pada sistem limfatik, yang ditandai dengan pembengkakan dan perubahan bentuk pada tungkai, organ reproduksi, maupun bagian tubuh lainnya.
Penanganan filariasis limfatik melibatkan penggunaan obat antiparasit, termasuk ivermectin, diethylcarbamazine (DEC), dan albendazole. Selain aspek pengobatan, penelitian juga terus dilakukan untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas berbagai strategi terapi serta pendekatan pemberian obat dalam skala populasi. Hal ini penting terutama di wilayah tempat filariasis limfatik dapat ditemukan bersamaan dengan penyakit tular vektor lainnya.
Dalam penelitian penyakit tular nyamuk, CUSABIO menyediakan sejumlah recombinant proteins dan antibodi yang berkaitan dengan Plasmodium, Dengue virus, Brugia spp., serta target molekuler lainnya. Produk-produk tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan penelitian, seperti studi karakterisasi protein, interaksi antigen-antibodi, pengembangan dan optimasi metode imunologi, serta penelitian molekuler terkait patogen.
| Target | Product Name | Source | Tag Info | Code |
| Bm1_01445 | Recombinant Brugia malayi tRNA (guanine-N(7)-)-methyltransferase(Bm1_01445) | E.coli | N-terminal 10xHis-tagged | CSB-EP427056BWV |
| JTB | Recombinant Brugia malayi Protein JTB (JTB), partial | E.coli | N-terminal 6xHis-SUMO-tagged | CSB-EP011970BMV |
Untuk pertanyaan produk dan stock lebih lanjut Bapak/Ibu dapat menghubungi kontak yang tertera pada laman website Indogen berikut. Terima kasih.
Referensi :
CUSABIO. (n.d.). Mosquito-borne diseases research. Retrieved September 24, 2026, https://www.cusabio.com/hot-categories/mosquito-borne-diseases-research.html
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Nyamuk lebih mematikan daripada hewan buas 2. Retrieved September 24, 2026, from https://kemkes.go.id/id/nyamuk-lebih-mematikan-daripada-hewan-buas-2
World Health Organization. (n.d.-a). Lymphatic filariasis: Diagnosis and treatment. Retrieved September 24, 2026, from https://www.who.int/teams/control-of-neglected-tropical-diseases/lymphatic-filariasis/diagnosis-and-treatment
World Health Organization. (n.d.-b). Microscopy. Retrieved September 24, 2026, https://www.who.int/teams/global-malaria-programme/case-management/diagnosis/microscopy
World Health Organization. (2024, September 26). Vector-borne diseases. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/vector-borne-diseases
World Health Organization. (2025, April 28). Laboratory testing for dengue virus: Interim guidance, April 2025.https://www.who.int/publications/i/item/B09394
Artikel Terkait
WhatsApp us