
Gambar 1. Kusta Tergolong Penyakit Tropis Terabaikan yang Bisa Picu Disabilitas Fisik.
Sc: Liputan6.com/Ade Nasihudin
Penyakit Tropis Terabaikan (NTDs) merupakan kelompok penyakit menular yang umum di daerah tropis dan subtropis, terutama menyerang populasi miskin dengan akses sanitasi terbatas. Penyakit ini disebabkan oleh patogen seperti parasit, bakteri, virus, dan cacing, serta disebut “terabaikan” karena kurang mendapat perhatian dibanding HIV, TB, atau malaria meskipun dampaknya besar terhadap kemiskinan dan kecacatan. Kelima dari 20 NTDs utama endemik di Indonesia meliputi filariasis, cacingan, schistosomiasis, kusta, dan frambusia.
Filariasis
Filariasis, yang dikenal sebagai “kaki gajah”, disebabkan oleh cacing filaria seperti Wuchereria bancrofti atau Brugia malayi yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Culex atau Anopheles. Penyakit ini didiagnosis secara akurat melalui pemeriksaan darah malam hari untuk mendeteksi microfilaria, tes antigen cepat (ICT) yang sensitif, serta USG untuk mengidentifikasi kerusakan sistem limfatik dini.
Manajemen klinis difokuskan pada pengurangan pembengkakan limfatik melalui terapi kompresi dan elevasi anggota tubuh untuk mencegah perkembangan elefantiasis serta komplikasi infeksi sekunder, sementara pengobatan utama menggunakan regimen IDA (ivermectin, DEC, albendazole) dosis tunggal yang direkomendasikan Kemenkes untuk kasus positif dan program massal. Pengendalian dilakukan via pengobatan pencegahan massal (POPM) tahunan di 236 kabupaten endemik, dikombinasikan kontrol vektor nyamuk Culex/Anopheles melalui fogging dan sanitasi lingkungan, yang telah berhasil bebaskan 37 daerah hingga 2022.
Soil-Transmitted Helminths (STH)
Cacingan atau Soil-Transmitted Helminths (STH), mencakup infeksi seperti ascariasis, trikuriasis, dan hookworm yang menjadi beban kesehatan masyarakat di daerah tropis Indonesia, terutama pada anak-anak pedesaan. Diagnosis primer dilakukan melalui mikroskopi feses untuk mengidentifikasi telur parasit secara langsung, didukung tes serologi pada kasus infeksi ringan yang sulit terdeteksi.
Koreksi anemia dan malnutrisi dilakukan melalui pemberian suplemen besi serta vitamin, disertai pemantauan rutin pertumbuhan anak guna meminimalkan dampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik dan kognitif. Pengobatan standar menggunakan albendazole atau mebendazole dosis tunggal (400 mg untuk dewasa), yang terbukti efektif lebih dari 90% dalam membersihkan infeksi, khususnya melalui program deworming massal di sekolah dua kali setahun. Pengendalian jangka panjang bergantung pada promosi jamban sehat, akses air bersih, dan kebiasaan higiene tangan, yang telah berhasil menurunkan prevalensi signifikan di kalangan anak usia 1-12 tahun.
Schistosomiasis
Schistosomiasis disebabkan oleh parasit Schistosoma japonicum yang ditularkan melalui siput perantara. Diagnosis utama dilakukan dengan teknik mikroskopi Kato-Katz pada sampel feses atau urine untuk mendeteksi telur parasit, sementara metode PCR atau tes antigen menawarkan sensitivitas lebih tinggi pada kasus infeksi ringan di daerah endemik.
Perlunya pemantauan ketat komplikasi kronis seperti hematuria, fibrosis hati, atau gangguan ginjal, dilengkapi rehabilitasi suportif untuk pasien stadium lanjut guna meningkatkan kualitas hidup. Pengobatan primer menggunakan praziquantel dengan dosis 40-60 mg/kg secara terbagi, yang efektif mematikan cacing dewasa dengan aman sesuai pedoman WHO. Pengendalian terintegrasi mencakup eliminasi siput perantara Pomacea canaliculata melalui moluskisida, pengobatan massal preventif, serta penyediaan sumber air aman untuk memutus rantai transmisi fekal-oral.
Kusta (Lepra)
Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, menjadi salah satu penyakit dengan dampak signifikan pada sistem saraf kulit. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan klinis kulit yang menunjukkan hipopigmentasi dan anestesi, ditambah slit-skin smear untuk mengukur indeks bakteri serta biopsi konfirmatif guna menentukan klasifikasi penyakit.
Dengan memprioritaskan pemberian steroid untuk mengatasi neuritis akut, fisioterapi rutin, serta alat ortopedi khusus dapat mencegah disabilitas permanen akibat kerusakan saraf periferal. Pengobatan utama mengikuti Multi-Drug Therapy (MDT) WHO yang disediakan gratis, meliputi rifampisin, dapsone, dan clofazimine selama 6 bulan untuk tipe pausibaciler atau 12 bulan untuk multibaciler, dengan tingkat kesembuhan mencapai lebih dari 95%. Pengendalian efektif dilakukan melalui deteksi dini aktif via pemeriksaan kulit massal, kampanye edukasi anti-stigma, serta surveilans intensif di daerah hotspot untuk mencapai target eliminasi di bawah 1 kasus per 10.000 penduduk.
Frambusia (Yaws)
Frambusia yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum pertenue, merupakan penyakit yang masih endemik di komunitas terpencil Indonesia seperti Papua, ditandai dengan lesi kulit primer khas berbentuk morbiliform. Diagnosis dikonfirmasi melalui PCR langsung dari lesi kulit atau tes serologi seperti RPR dan TPHA untuk mendeteksi antibodi spesifik, memungkinkan identifikasi cepat di daerah terpencil.
Perlunya perawatan luka yang teliti guna mencegah infeksi sekunder, disertai dukungan psiko-sosial untuk mengatasi stigma sosial yang sering dialami pasien di komunitas terisolasi. Pengobatan utama menggunakan injeksi penisilin benzatin intramuskular dosis tunggal (1,2 juta unit untuk dewasa), dengan azitromisin oral sebagai alternatif aman bagi yang alergi, yang mampu menyembuhkan lebih dari 90% kasus stadium dini. Pengendalian dilakukan melalui survei total pengobatan massal di komunitas endemik, promosi higiene kulit yang baik, serta pemantauan berkelanjutan untuk mencegah kebangkitan kembali penyakit di wilayah rawan.
Produk Penunjang Analisis NTDs
| No | Brand | No Cat | Deskripsi | Jenis Analisis |
| 1 | Diasino | DS177760 | Syphilis-TP ELISA, IVD | ELISA |
| 2 | Assay Genie | HDES0037 | Human Treponema Pallidum (TP) Antibody ELISA Kit | Sandwich ELISA |
| 3 | Assay Genie | HUFI08037 | Human Treponema Pallidum (TP) Antibody ELISA Kit (HUFI08037) | Qualitative ELISA |
| 4 | Finetest | EH4102 | Human TPAb(Treponema pallidum antibody) ELISA Kit | Qualitative ELISA |
| 5 | Finetest | EH4239 | Human NGFR(p75 neurotrophin receptor) ELISA Kit | Sandwich ELISA |
| 6 | MyBioSource | MBS7606425 | Human NGFR (p75 neurotrophin receptor) ELISA Kit | ELISA |
Untuk pertanyaan produk dan stock lebih lanjut dapat menghubungi kami PT. Indogen melalui email sales.indogen@gmail.com atau melalui WhatsApp pada link berikut https://indogen.id/contact-us/
Referensi
Artikal Terkait