Yuk Kenali Biomarker Parkinson dengan Teknik ELISA

Yuk Kenali Biomarker Parkinson dengan Teknik ELISA

57

1. Penyakit Neurodegeneratif

Penyakit neurodegeneratif adalah penyakit yang terjadi karena gangguan fungsi sistem saraf. Gangguan fungsi ini menyebabkan gejala umum muncul pada penderita yang mengalaminya, termasuk penderita yang mengalami gangguan memori dan motorik. Kasus penyakit neurodegeneratif semakin meluas. Berbagai studi menunjukkan bahwa penyakit ini menempati peringkat ke-8 dari 10 penyakit yang berkontribusi terhadap kecacatan.

Penyakit neurodegeneratif yang paling umum terjadi di masyarakat Indonesia dan negara-negara lain pada umumnya adalah Huntington, Alzheimer, dan Parkinson.  Penyakit Huntington adalah gangguan neurodegeneratif yang terkait dengan kromosom autosom dominan dan dapat diwariskan. Penyakit Alzheimer adalah penyakit neurodegeneratif yang secara perlahan merusak memori dan kemampuan berpikir, dan pada akhirnya kehilangan kemampuan untuk mengingat dan melakukan aktivitas-aktivitas paling sederhana. Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang paling umum kedua setelah Alzheimer,  yang melibatkan kehilangan neuron dopaminergik di otak tengah. Lebih rinci terkait penyakit neurodegeneratif dapat Anda baca di sini.

2. Penyakit Parkinson

Penyakit Parkinson terjadi karena kerusakan saraf progresif di area tertentu otak. Munculnya penyakit Parkinson dipengaruhi oleh usia, genetik, dan lingkungan. Gejala awal Parkinson ditandai dengan tiga tanda utama  yaitu  kelambatan  gerakan  (bradikinesia), kekakuan  otot  (rigiditas),  dan  tremor  saat  istirahat (resting tremor).

Gambar 1. Perubahan aktivitas area cortex motorik pada penyakit Parkinson.

Gambar 1. Perubahan aktivitas area cortex motorik pada penyakit Parkinson.

Patofisiologi penyakit Parkinson diketahui melibatkan penurunan produksi hormon striatal dopamin. Hal ini diyakini menyebabkan peningkatan efek inhibisi dari globus pallidus pars interna/substantia nigra pars reticulata (Gpi/SNr), yang mengakibatkan penekanan gerakan. Pada penyakit Parkinson, depigmentasi substantia nigra dan locus coeruleus terjadi akibat kehilangan neuron dopamin di substantia nigra pars compacta akibat proses apoptosis dan autofagi. Proses kehilangan neuron juga terjadi di nukleus basal Meynert dan nukleus motorik dorsal saraf vagus, dan badan Lewy juga ditemukan di area yang terdampak secara langsung atau tidak langsung (aliran dan representasi skematis ditampilkan pada Gambar 3.)

Gejala penyakit Parkinson bervariasi tergantung pada fenotipe motorik dan usia pasien.  Gejala motorik yang terlihat meliputi tremor, kejang, dan kekakuan otot. Selain itu, gejala non-motorik meliputi gangguan tidur, gangguan kognitif, dan gangguan emosional seperti depresi, iritabilitas, kecemasan, ketakutan, dan perubahan mood yang tidak stabil.

3. Apa Saja Biomarker untuk Deteksi Penyakit Parkinson?

Mutasi pada gen SNCA, pengkode protein α-synuclein (α-syn), dan penggandaan gen ini, terkait dengan patogenesis penyakit Parkinson genetik (PD).  α-Syn telah diidentifikasi sebagai komponen utama dari Lewy bodies, dan studi lain menunjukkan bahwa protein ini juga merupakan komponen utama dari glial cytoplasmic inclusions pada atrofi sistem multipel (MSA). Selain itu, pasien dengan gangguan perilaku tidur gerakan mata cepat (RBD) dapat berkembang menjadi PD, demensia dengan badan Lewy (DLB), dan MSA selama perjalanan klinisnya. Penyakit neurodegeneratif yang ditandai oleh agregasi α-syn ini secara kolektif disebut α-synucleinopathies.

α-Syn adalah protein dengan berat molekul 14 kDa. Wilayah N-terminal protein ini, yang terdiri dari asam amino 1–60, bersifat amfipatik, sedangkan wilayah komponen non-amiloid (NAC) yang mengikuti (asam amino 61–95) bersifat hidrofobik dan terlibat dalam agregasi. Segmen dari wilayah NAC hingga ujung C-terminal (asam amino 95–140) mengandung banyak asam amino asam, yang diyakini mengikat kalsium dan berperan sebagai chaperone. Wilayah N-terminal mengadopsi struktur heliks alfa, memungkinkan ikatan dengan membran. Selain itu, ikatan kalsium di C-terminus dilaporkan mengatur ikatan vesikel sinaptik dengan membran, menyarankan peran fisiologis α-syn dalam transportasi membran di sinapsis. α-Syn diekspresikan di neuron perifer dan sentral serta di sel darah merah dan trombosit.

Gambar 2. Lewy Body

Gambar 2. Lewy Body

Dalam kondisi normal, α-syn diyakini berada dalam bentuk monomer yang tidak terlipat secara alami, tetapi dapat stabil menjadi tetramer dengan berat molekul sekitar 58 kDa. Ketidakseimbangan antara keadaan monomer dan tetramer ini dapat memicu agregasi α-syn. Namun, terdapat perdebatan mengenai apakah α-syn dapat memiliki struktur tetramerik di dalam otak. α-syn yang mengalami perubahan konformasi dengan struktur β-sheet cenderung mengagregasi, menelan molekul α-syn yang berstruktur normal, dan mengubahnya menjadi bentuk agregat abnormal. Proses ini menyebabkan fibrilasi dari oligomer (protofibril) yang terdiri dari beberapa molekul α-syn yang mengalami perubahan konformasi.

Oligomer sangat toksik dan menyebabkan disfungsi seluler, termasuk disfungsi sinaptik, mitokondria, dan lisosom-autofagi. Selain itu, oligomer dilaporkan membentuk pori-pori pada membran sel, meningkatkan permeabilitas membran, dan menyebabkan neurotoksisitas. Analisis mikroskopi cahaya dan elektron korelatif mengungkapkan keterlibatan berbagai organel membran, termasuk mitokondria, lisosom, dan vesikel sinaptik, dalam pembentukan badan Lewy. Ada dugaan bahwa fibril α-syn mungkin memicu agregasi organel-organel ini, yang mengarah pada pembentukan badan Lewy.

Seperti yang telah digarisbawahi sebelumnya, penyebaran sistemik seeds α-syn kemungkinan berperan dalam patogenesis Parkinson (PD). Oleh karena itu, deteksi α-syn dalam cairan tubuh dapat membantu dalam memahami dan mendiagnosis α-synucleinopathy. α-Syn dapat dideteksi dalam cairan serebrospinal (CSF), sel darah tepi, dan trombosit. Banyak studi telah menilai jumlah total α-syn dalam cairan spinal (t-α-syn) dan menyelidiki tingkatnya dalam darah. Selain itu, oligomer α-syn (o-α-syn) dan α-syn yang difosforilasi pada Ser129 (pS129-α-syn) sedang dieksplorasi sebagai biomarker potensial untuk PD.

4. Produk ELISA Kit Deteksi Penyakit Parkinson

Kit ELISA neurodegeneratif tersedia melalui distributor seperti PT Indogen Intertama untuk mendukung riset biomarker Parkinson yang sedang Anda lakukan. Berikut produk Kit ELISA untuk biomarker Parkinson:

Tabel 1. Produk Kit ELISA Biomarker Parkinson

Brand Catalog Num Description Detection Range Size
Elabscience E-EL-H0983 Human SNCα (Synuclein Alpha) ELISA Kit 15.63-1000 pg/mL 96T
Elabscience E-UNEL-H0334 Uncoated Human SNCα (Synuclein Alpha) ELISA Kit 15.63-1000 pg/mL 96T*5
Finetest ER0921 Rat SNCa(Synuclein Alpha) ELISA Kit 15.625-1000pg/ml 96T
Finetest EH0582 Human SNCA(Alpha-synuclein) ELISA Kit 15.625-1000pg/ml 96T
Finetest EM1369 Mouse SNCa(Synuclein, Alpha) ELISA Kit 15.625-1000pg/ml 96T
Finetest ECA0068 Canine SNCa (Synuclein, Alpha) ELISA Kit 15.625-1000pg/ml 96T
Finetest EMK0351 Monkey SNCA (Alpha-synuclein) ELISA Kit 0.156-10ng/ml 96T
Cusabio CSB-E18033h Human alpha-synuclein(SNCA)ELISA kit 0.312-20 ng/mL 96T
Cusabio CSB-EL021912RA Rat Alpha-synuclein (SNCA) ELISA kit 0.625-40 ng/mL 96T

Untuk pertanyaan produk dan stock lebih lanjut Bapak/Ibu dapat menghubungi kontak yang tertera pada laman website Indogen berikut. Terima kasih.

Artikel Terkait:

  1. Deteksi Penyakit Neurodegeneratif dalam Riset dan Diagnosis Dengan Metode ELISA Kit
  2. Pengujian ELISA β-amyloid (Aβ) Untuk Deteksi Penyakit Alzheimer
  3. Kenal Lebih Dekat Marker-Maker Alzheimer dengan Teknik ELISA

Referensi:

  1. Alia, S., Hidayati, H. B., Hamdan, M., Nugraha, P., Fahmi, A., Turchan, A., & Haryono, Y. (2021). Penyakit Parkinson: Tinjauan tentang salah satu penyakit neurodegeneratif yang paling umum. Jurnal Aksona, 1(2), 95-99.
  2. Hatano, T., Okuzumi, A., Matsumoto, G., Tsunemi, T., & Hattori, N. (2024). α-Synuclein: a promising biomarker for Parkinson’s disease and related disorders. Journal of Movement Disorders, 17(2), 127.
  3. Karlina, I., Andriyani, E. F. S., Pratiwi, A. D., Prasasti, F. F. T. A., Tunjung, W. A. S., Rohmah, Z., & Nuriliani, A. (2024). Gambaran Penyakit Neurodegeneratif: Huntington, Alzheimer, dan Parkinson: Sebuah Tinjauan. Jurnal Biomedika dan Kesehatan, 7(1), 113-123.