Kultur sel sudah digunakan secara luas sebagai tools in vitro untuk meningkatkan pemahaman terkait biologi sel, morfologi jaringan dan mekanisme penyakit, pengobatan dan produksi protein. Kultur sel juga digunakan untuk studi dan pengembangan teknik jaringan. Umumnya riset yang terkait dengan biologi kanker berdasarkan eksperimen menggunakan kultur sel in vitro 2D. Namun kultur sel 2D masih memiliki banyak keterbatasan, seperti gangguan interaksi antara lingkungan seluler dan ekstraseluler, perubahan morfologi sel, polaritas, dan metode pembelahan. Kekurangan ini menyebabkan terciptanya model yang lebih mampu meniru kondisi in vivo. Salah satu metode tersebut adalah kultur tiga dimensi (3D). Optimalisasi kondisi kultur dapat memungkinkan pemahaman yang lebih baik tentang biologi kanker dan memfasilitasi studi biomarker dan terapi target.
Kultur 2D
Pada kultur 2D, sel tumbuh sebagai lapisan tunggal dalam labu kultur atau cawan petri datar, menempel pada permukaan flask. Keunggulan kultur 2D dikaitkan dengan pemeliharaan kultur sel yang sederhana dan berbiaya rendah serta dengan pelaksanaan uji fungsional. Sayangnya, kultur sel yang melekat juga memiliki banyak kekurangan. Pertama, sel yang dikultur 2D tidak meniru struktur alami jaringan atau tumor. Dalam metode kultur ini, interaksi sel-sel dan sel-lingkungan ekstraseluler tidak terwakili seperti yang terjadi pada massa tumor. Interaksi ini bertanggung jawab atas diferensiasi sel, proliferasi, vitalitas, ekspresi gen dan protein, respons terhadap rangsangan, metabolisme obat, dan fungsi seluler lainnya.
Setelah diisolasi dari jaringan dan dipindahkan ke kondisi 2D, morfologi sel berubah, begitu pula cara pembelahan sel. Hilangnya beragam fenotipe juga merupakan akibat dari kultur 2D. Perubahan morfologi sel dapat memengaruhi fungsinya, organisasi struktur di dalam sel, sekresi dan pensinyalan sel. Karena gangguan interaksi dengan lingkungan eksternal, sel yang tumbuh melekat kehilangan polaritasnya, yang mengubah respons sel tersebut terhadap berbagai fenomena, seperti apoptosis. Kekurangan lain dari kultur 2D adalah sel dalam monolayer memiliki akses tak terbatas ke bahan-bahan medium seperti oksigen, nutrisi, metabolit, dan molekul sinyal. Untuk sel kanker in vivo , ketersediaan nutrisi, oksigen, dan sebagainya, lebih bervariasi karena arsitektur alami massa tumor. Setelah diamati lebih lanjut, sistem 2D dapat mengubah ekspresi gen dan penyambungan, topologi dan biokimia sel. Selain itu, kultur yang melekat biasanya merupakan kultur tunggal dan hanya memungkinkan untuk mempelajari satu jenis sel, yang mengakibatkan kurangnya lingkungan mikro tumor, yang dibutuhkan oleh sel-sel pemicu kanker secara in vivo.
Kultur 3D
Berdasarkan metode persiapannya, model 3D dapat dibagi menjadi: a) kultur suspensi pada flask non-perekat; b) kultur dalam medium pekat atau dalam zat seperti gel; dan c) kultur pada perancah. Berikut deskripsi dan penjelasan terkait ketiga sistem kultur 3D tersebut.
Konsep bola 3D didasarkan pada penciptaan struktur sferoid di mana sel membentuk berbagai lapisan. Struktur ini meniru fitur fisik dan biokimia dari massa tumor padat. Analisis morfologi dari 40 lini sel tumor (berasal dari: glioblastoma, astrocytoma, tumor Wilms, neuroblastoma, karsinoma sel skuamosa kepala dan leher, melanoma, kanker paru-paru, payudara, usus besar, prostat, ovarium, hepatoseluler, dan pankreas) yang dikultur dalam kondisi sferoid 3D mengarah pada identifikasi tiga kelompok berbeda menurut arsitektur bentuk sferoid yaitu sferoid rapat, agregat kompak, dan agregat longgar. Beberapa sel dalam kondisi non-adhesif menunjukkan interaksi sel-sel dan sel-matriks yang berkurang, kehilangan penambatannya, lolos dari anoikis, membelah, dan menciptakan bola.

Gambar 1. Ilustrasi kultur sel 2D (A) dan kultur sel 3D (B, C, D, E, F). Sumber: Kapałczyńska et al., 2016
Berikut perbandingan metode kultur sel 2D dan 3D
| Jenis Kultur | 2D | 3D |
| Masa Pembentukan Kultur | Dalam hitungan menit hingga beberapa jam | Dari beberapa jam hingga beberapa hari |
| Kualitas Kultur | Kinerja tinggi, reproduktivitas, kultur jangka panjang, mudah diinterpretasikan, kesederhanaan kultur | Performa dan reproduksibilitas lebih buruk, sulit diinterpretasikan, kultur lebih sulit diterapkan |
| Imitasi in vivo | Jangan meniru struktur alami jaringan atau massa tumor. | Jaringan dan organ in vivo berbentuk 3D. |
| Interaksi Sel | Tidak adanya interaksi antar sel dan interaksi sel dengan lingkungan ekstraseluler, tidak ada lingkungan mikro seperti in vivo dan tidak ada “ceruk” | Interaksi yang tepat antara sel-sel dan sel-lingkungan ekstraseluler, menciptakan “ceruk” lingkungan. |
| Karakteristik sel | Perubahan morfologi dan cara pembelahan; hilangnya fenotipe dan polaritas yang beragam. | Morfologi dan cara pembelahan yang terjaga, fenotipe dan polaritas yang beragam. |
| Akses terhadap senyawa esensial | Akses tak terbatas terhadap oksigen, nutrisi, metabolit, dan molekul pemberi sinyal (berbeda dengan kondisi in vivo ). | Akses yang bervariasi terhadap oksigen, nutrisi, metabolit, dan molekul pemberi sinyal (sama seperti in vivo ) |
| Mekanisme molekuler | Perubahan ekspresi gen, penyambungan mRNA, topologi, dan biokimia sel. | Ekspresi gen, penyambungan (splicing), topologi dan biokimia sel seperti pada kondisi in vivo. |
| Biaya memelihara suatu budaya | Tes murah yang tersedia secara komersial dan media | Lebih mahal, lebih memakan waktu, dan lebih sedikit tes yang tersedia secara komersial. |
ADME-tox dan kultur in vitro
ADME-tox merupakan metode dalam pengembangan obat yang mencakup Absorbsi, Distribusi, Metabolisme dan Ekskresi, sedangkan tox merujuk pada toxisitas. Metode ini menjelaskan pengujian bagaimana obat diserap, didistribusikan, dilakukan proses metabolisme dan kemudian dilakukan eliminasi apakah aman atau berbahaya bagi tubuh, untuk memprediksi efikasi dan safety obat.
Absorbsi akan menjelaskan bagaimana obat masuk kedalam aliran darah dari asal pemberiannya, misalkan oral atau injeksi. Distribusi dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana obat dapat menyebar ke seluruh jaringan dan organ tubuh melalui pembuluh darah. Metabolisme digunakan untuk menjelaskan bagaimana tubuh memetabolisme obat menjadi senyawa metabolit, proses ini umumnya berlangsung di organ hepar. Ekskresi menjelaskan bagaimana obat metabolitnya dikeluarkan dari tubuh melalui urin, keringat ataupun feses. Toksisitas mengevaluasi potensi efek samping atau bahaya yang ditimbulkan oleh obat terhadap sel dan organisme. Oleh karena itu, selain sifat farmakologis sifat ADME/Tox merupakan penentu penting dari keberhasilan klinis suatu obat.
Kesadaran ini telah menyebabkan diperkenalkannya screening ADME/Tox sejak dini selama proses penemuan obat, sebagai upaya untuk menyeleksi obat-obatan yang memiliki profil ADME/Tox yang bermasalah. Informasi lebih lanjut mengenai ADME-Tox dapat diakses pada link berikut.
Screening ADME/tox dilakukan menggunakan cara in vitro dengan kultur sel. Beberapa sel yang digunakan untuk screening ADME/tox adalah sebagai berikut: Caco2 untuk screening absorbsi; hepatosit untuk screening metabolisme; sel ginjal (kidney) untuk screening ekskresi dan hepatosit juga untuk screening toksisitas.
Berikut beberapa Cell Line dari brand Cellverse yang dapat kami supply untuk kebutuhan anda terkait kultur sel untuk screening ADME-tox.
| No | No Catalog | Nama Produk |
| 1. | iCell-h032 | Human Colon Cancer Cells Abbr: Caco-2 |
| 2. | iCell-h089 | Human Normal Hepatocytes Abbr: QSG-7701 |
| 3. | iCell-m003 | Mouse Hepatocyte Cells Abbr: AML12 |
| 4. | iCell-r033 | Rat Hepatocytes Abbr: BRL |
| 5. | HUM-iCELL-u004 | Human Primary Kidney Foot Cells |
| 6. | HUM-iCell-u013 | Human Kidney Fibroblast Cells; |
| 7. | iCell-0151a | Green Fluorescent Label Of Human Embryonic Kidney Cells Abbr: Lenti-X293T |
| 8. | iCell-c001 | Hamster Kidney Fibroblast Cells Abbr: BHK-21 |
| 9. | iCell-c012 | African Green Monkey Kidney Cell (Sv40 Transformed) Abbr: COS-7 |
| 10. | iCell-c013 | Rhesus Monkey Kidney Cells Abbr: MA-104 |
| 11. | iCell-c014 | African Green Monkey Kidney Cells Abbr: VERO |
| 12. | iCell-c017 | Porcine Kidney Cell Line Abbr: PK-1 |
Apabila terdapat kebutuhan terkait Cell Line dan sekiranya ingin berdiskusi terlebih dahulu, mohon dapat menghubungi pada kontak berikut. Terimakasih.
Source:
Kapałczyńska M, Kolenda T, Przybyła W, Zajączkowska M, Teresiak A, Filas V, Ibbs M, Bliźniak R, Łuczewski Ł, Lamperska K. 2D and 3D cell cultures – a comparison of different types of cancer cell cultures. Arch Med Sci. 2018 Jun;14(4):910-919. doi: 10.5114/aoms.2016.63743. Epub 2016 Nov 18. PMID: 30002710; PMCID: PMC6040128.
https://indogen.id/adme-tox-absorption-distribution-metabolism-excretion-dan-toxicology/