A. Penyakit Alexander Disease
Penyakit Alexander (Alexander disease atau AxD) merupakan penyakit neurodegeneratif langka yang terutama menyerang sistem saraf pusat, khususnya sel glia yang disebut astrosit. Penyakit ini umumnya berkaitan dengan mutasi pada gen GFAP (glial fibrillary acidic protein), yang berperan penting dalam struktur dan fungsi astrosit.
Dalam beberapa tahun terakhir, terapi berbasis RNA, khususnya antisense oligonucleotide (ASO), menjadi salah satu pendekatan terapi yang paling menjanjikan untuk AxD. Berbeda dengan pengobatan yang hanya meredakan gejala, ASO dirancang untuk menargetkan mekanisme molekuler penyakit, yaitu produksi GFAP yang abnormal atau berlebihan.
Prinsip utamanya adalah mengurangi produksi GFAP di dalam astrosit untuk menekan proses kerusakan saraf yang mendasari penyakit. Pendekatan ini berpotensi mengubah perjalanan penyakit, meskipun efektivitas dan keamanan jangka panjangnya pada manusia masih perlu dibuktikan melalui uji klinis.
B. Memahami Penyakit Alexander (AxD)
AxD adalah leukodistrofi, yaitu kelompok penyakit yang mengganggu fungsi atau struktur materi putih otak. Namun, AxD memiliki karakteristik penting: gangguan utamanya berasal dari astrosit, bukan semata-mata dari mielin.
Astrosit membantu menjaga lingkungan kimiawi otak, mendukung neuron, mengatur keseimbangan ion, serta berperan dalam metabolisme dan perlindungan jaringan saraf. Ketika fungsi astrosit terganggu, neuron dan mielin dapat ikut terdampak.
Manifestasi klinis AxD bervariasi, antara lain:
Penyakit ini dapat muncul sejak masa bayi hingga dewasa. Usia onset, gejala, dan kecepatan progresi sangat bervariasi antarindividu.
C. Peran GFAP dalam Patogenesis AxD

Gambar 1. GFAP (Sc:Wikipedia)
GFAP (glial fibrillary acidic protein) adalah protein filamen intermediat tipe III yang menjadi salah satu komponen utama kerangka internal astrosit. Protein ini membantu mempertahankan bentuk sel dan mendukung organisasi struktural serta respons astrosit terhadap cedera.
Gen GFAP terletak pada kromosom 17. Pada AxD, varian patogen pada gen ini umumnya menyebabkan efek gain-of-function, yaitu perubahan yang membuat protein atau sistem yang melibatkannya memperoleh aktivitas patologis. Akibatnya, astrosit mengalami gangguan fungsi dan penumpukan protein.
Selain menjadi sasaran terapi, GFAP juga dapat digunakan sebagai biomarker untuk membantu memantau aktivitas biologis penyakit.
Namun, penurunan GFAP dalam darah tidak otomatis berarti seluruh kerusakan neurologis telah pulih. Biomarker harus ditafsirkan bersama kondisi klinis dan pemeriksaan lainnya.
D. Apa Itu Terapi ASO?

Gambar 2. Mekanisme dasar kerja oligonukleotida antisense terapeutik (ASO) dan interferensi RNA (RNAi).
(Sc : https://www.frontiersin.org/journals/pharmacology/articles/10.3389/fphar.2019.00305/full)
ASO (antisense oligonucleotide) adalah molekul pendek berbasis asam nukleat yang dirancang untuk mengenali urutan RNA tertentu secara spesifik. Dalam AxD, ASO diarahkan pada RNA pembawa pesan (messenger RNA atau mRNA) dari gen GFAP.
Dengan mengurangi jumlah mRNA tersebut, sel menghasilkan lebih sedikit protein GFAP. Pendekatan ini bertujuan mengurangi beban protein yang berkontribusi terhadap disfungsi astrosit.
Mekanisme kerja ASO terhadap GFAP
Penting untuk dipahami bahwa ASO tidak secara langsung memperbaiki mutasi DNA pada GFAP. Terapi ini mengurangi ekspresi RNA target sehingga produksi protein berkurang.
E. Produk GFAP
GFAP (Glial Fibrillary Acidic Protein) ELISA Kit merupakan kit uji imunosorben terkait enzim (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) yang digunakan untuk mengukur kadar protein GFAP secara kuantitatif dalam berbagai sampel biologis, seperti serum, plasma, cairan serebrospinal (cerebrospinal fluid/CSF), dan homogenat jaringan, sesuai dengan spesifikasi serta validasi kit. GFAP merupakan protein filamen intermediat yang terutama ditemukan pada astrosit di sistem saraf pusat dan berperan sebagai salah satu penanda penting untuk mengevaluasi aktivitas serta respons astrosit terhadap kondisi patologis.
Dalam penelitian penyakit Alexander (Alexander disease/AxD), GFAP memiliki relevansi khusus karena perubahan ekspresi dan fungsi protein ini berkaitan erat dengan patogenesis penyakit. Oleh karena itu, GFAP ELISA Kit dapat dimanfaatkan untuk mendukung penelitian biomarker, mengevaluasi perubahan kadar GFAP, serta memantau respons biologis terhadap pendekatan terapi berbasis antisense oligonucleotide (ASO) yang menargetkan ekspresi gen GFAP. Pengukuran GFAP secara kuantitatif diharapkan dapat memberikan informasi pendukung dalam memahami mekanisme penyakit dan mengevaluasi efektivitas terapi pada penelitian praklinis maupun penelitian klinis yang sesuai.
| Brand | No Cat | Deskripsi | Detection Range | Sensitivity |
| Elabscience | E-EL-H6093 | Human GFAP(Glial Fibrillary Acidic Protein) ELISA Kit | 15.63-1000 pg/mL
|
9.38 pg/mL |
| Elabscience | E-EL-R1428 | Rat GFAP(Glial Fibrillary Acidic Protein) ELISA Kit | 0.31-20 ng/mL | 0.19 ng/mL |
| Elabscience | E-EL-M3111 | Mouse GFAP (glial fibrillary acidic protein) ELISA Kit | 0.78-50 pg/mL | 0.47 pg/mL |
| Finetest | E-EL-H6093 | Human GFAP(Glial fibrillary acidic protein) ELISA Kit | 0.313-20ng/ml | 0.188ng/ml |
| Finetest | ER0229 | Rat Gfap(Glial fibrillary acidic protein) ELISA Kit | 0.313-20ng/ml | 0.188ng/ml |
| Finetest | EM0335 | Mouse Gfap(Glial fibrillary acidic protein) ELISA Kit | 15.625-1000pg/ml | 9.375pg/ml |
Untuk pertanyaan produk dan stock lebih lanjut dapat menghubungi kami PT. Indogen melalui email sales.indogen@gmail.com atau melalui WhatsApp pada link berikut https://wa.me/6281293185185
Artikel Terkait Lainnya :
Referensi :
WhatsApp us