Mari Rayakan Hari Kesadaran IMS dengan Membaca Artikel Berikut!

Mari Rayakan Hari Kesadaran IMS dengan Membaca Artikel Berikut!

Mari rayakan Hari Kesadaran IMS dengan membaca artikel berikut

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang menular melalui hubungan seksual baik melalui vaginal, oral maupun anal. Infeksi ini umumnya disebabkan oleh bakteri, jamur, virus dan parasit lainnya. Beberapa gejala pada kasus IMS seperti nyeri, gatal, atau ruam di area intim, namun sebagian besar kasus tidak menunjukkan gejala. Penyakit ini merupakan kondisi serius yang disebabkan oleh hubungan seksual yang tidak aman. Pada beberapa kasus penyakit IMS dapat disembuhkan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa penyakit tersebut akan kembali lagi.

Gambar 1. Beberapa mikroba penyebab IMS.Source: https://www.upmc.com/services/womens-health/conditions/sti

Gambar 1. Beberapa mikroba penyebab IMS.
Source: https://www.upmc.com/services/womens-health/conditions/sti

Meskipun dunia medis telah mengalami banyak perkembangan, namun kita tidak dapat menampik bahwa stigma masyarakat terkait penyakit IMS seringkali membuat para penyintas menutup diri akan penyakitnya dan menolak pengobatan. Stigma masyarakat yang menganggap penyintas IMS tidak bermoral menyebabkan rasa malu pada penyintas sehingga mengisolasi diri dari dunia sosial dan meningkatkan risiko komplikasi. Dampak psikologis yang dialami oleh penyintas dimulai dari dampak psikologis hingga hambatan pengobatan sehingga penghapusan stigma negatif untuk penyintas IMS harus terus digalakkan.

Eliminasi stigma negatif untuk penyintas IMS dimulai dari edukasi seksual dan perlunya informasi yang tepat. Edukasi dan informasi ini harus dilakukan secara menyeluruh sehingga tidak lagi menimbulkan stigma untuk penyintas. Informasi yang dibutuhkan adalah bahwa IMS merupakan salah satu penyakit medis seperti halnya penyakit medis lainnya, tidak perlu dibedakan dengan penyakit lain dan juga bukanlah sebuah aib. Hal lain yang dapat membantu untuk eliminasi stigma negatif IMS adalah normalisasi tes untuk IMS dengan memasukkan tes IMS (seperti sifilis atau HIV) pada check up kesehatan rutin. Hal ini akan perlahan menggeser stigma bahwa IMS hanya didapatkan oleh manusia berperilaku buruk. Keterbukaan pada pasangan mengenai edukasi dan status IMS pada diri juga merupakan salah satu langkah penting untuk eliminasi stigma. Hal ini dapat dilakukan sebelum melakukan kegiatan seksual secara aktif sehingga mendapatkan satu pemahaman yang sama terkait IMS dengan pasangan. Hal terakhir yang juga penting terkait dengan stigma IMS adalah pembuatan kebijakan oleh pemerintah terkait edukasi untuk mengurangi diskriminasi pada penyintas IMS. Baiknya dalam perumusan kebijakan tersebut juga melibatkan peran aktif dari penyintas IMS sehingga kebijakan yang dibuat dapat tepat pada sasaran.

Dalam upaya menggeser stigma IMS, hal pertama dan harus dilakukan segera adalah edukasi seksual untuk IMS. Edukasi ini dapat dilakukan oleh siapa saja yang memiliki akses informasi terhadap IMS seperti tenaga kesehatan, aktivis seksual dan juga pengajar. Edukasi seksual terkait IMS harus segera diajarkan pada remaja yang sudah mulai tertarik dengan interaksi dengan lawan jenis. Edukasi seksual merupakan upaya pencegahan dan juga penanggulangan penyakit IMS. Pencegahan utama yang dapat dilakukan adalah dengan alat kontrasepsi sebagai salah satu alat perlindungan diri dari penularan IMS. Setia terhadap satu pasangan juga akan menurunkan probabilitas kejadian IMS. Upaya selanjutnya adalah vaksinasi seperti vaksin HPV yang dapat melindungi tubuh dari penyakit seksual hingga kanker serviks pada wanita dan kutil kelamin.

Upaya lainnya yang dapat dilakukan apabila telah melakukan kegiatan seksual secara aktif adalah skrining rutin terhadap diri sendiri dengan mengenali gejala IMS seperti munculnya ruam atau kutil pada kulit kemaluan serta kejadian tidak normal yang berkaitan dengan organ reproduksi. Skrining rutin juga dapat dilakukan secara teratur di rumah sakit sebagai salah satu hal yang dilakukan saat check up rutin. Apabila menemukan kejanggalan pada organ reproduksi segera mencari bantuan pengobatan pada fasilitas kesehatan untuk menghindari terjadinya komplikasi.

Diagnosis yang dilakukan untuk pengecekan rutin IMS adalah dengan mengambil cairan biologis tubuh seperti darah, urine dll. Diagnosis IMS dimulai dengan pemeriksaan fisik seperti area genital atau organ tubuh lainnya. Darah yang diambil kemudian dibawa ke laboratorium untuk dilakukan tes darah tes urine dan tes swab. Berikut merupakan beberapa IMS dan gejalanya yang penting diketahui:

  1. Sifilis (raja singa):  infeksi bakteri sistemik yang disebabkan oleh spirochete Treponema pallidum . Karena manifestasi klinisnya yang sangat beragam, penyakit ini dijuluki sebagai “peniru dan pengganggu ulung”. Sifilis tetap menjadi wabah kontemporer yang terus menyerang jutaan orang di seluruh dunia. Infeksi ini berkembang melalui 4 tahap (primer, sekunder, laten, dan tersier) dan dapat memengaruhi hampir setiap sistem organ dalam tubuh, bahkan bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun setelah infeksi awal. Gejala awal meliputi chancre tanpa rasa sakit pada penyakit primer atau ruam makulopapular unik yang melibatkan telapak tangan dan telapak kaki pada sifilis sekunder. Karena manifestasi klinisnya sangat bervariasi, dokter perlu selalu waspada terhadap kemungkinan sifilis dalam diagnosis banding berbagai penyakit yang mempengaruhi sistem organ tubuh mana pun dan melakukan pengujian serologis skrining secara sering dan tepat, terutama pada populasi berisiko tinggi.
  2. Gonorrhea: disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae dan menyerang lapisan mukosa saluran reproduksi (pria/wanita), dubur, faring, atau konjungtiva. Gejala seringkali tidak muncul (asimtomatik), namun jika muncul, biasanya meliputi keluarnya cairan kuning/hijau dari alat kelamin, rasa terbakar saat kencing, serta nyeri panggul. Gejala pada pria umumnya seperti keluarnya cairan kental (nanah) berwarna putih, kuning, atau hijau dari ujung penis, adanya sensasi terbakar atau nyeri saat buang air kecil (disuria) dan nyeri atau pembengkakan pada testis. Sedangkan gejala pada wanita gejalanya meliputi peningkatan cairan vagina (duh vagina) yang tidak biasa, nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia), nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil, perdarahan diantara siklus menstruasi (metrorrhagia), dan nyeri perut bagian bawah atau pinggang.
  3. Human Papillomavirus (HPV): merupakan sekelompok virus yang menyebabkan IMS yang juga berpotensi menyebabkan kanker organ reproduksi seperti kanker serviks, kanker vulva/vagina dan kutil pada kelamin. Lesi klinis mungkin terlihat jelas, tetapi dalam beberapa kasus (lesi laten) mungkin memerlukan pengujian DNA virus. Sebagian besar infeksi HPV bersifat laten, dan sebagian besar lesi klinis muncul sebagai kutil dan bukan sebagai suatu bersifat ganas.Saat ini, HPV telah dikaitkan sebagai penyebab kanker laring, mulut, paru-paru, dan anogenital. Penting untuk dipahami bahwa HPV saja tidak menyebabkan kanker tetapi membutuhkan pemicu seperti merokok, kekurangan folat, paparan sinar UV, imunosupresi, dan kehamilan.
  4. HIV/AIDS: HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel T CD4, yang jika tidak diobati dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Gejala awal (2-4 minggu setelah terinfeksi) sering menyerupai flu (sindrom retroviral akut), termasuk demam, kelelahan, ruam, sakit tenggorokan, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Memasuki tahap 2 virus tetap aktif tetapi bereproduksi pada tingkat yang sangat rendah. Pada tahap ini, penderita sering kali tidak merasakan gejala sama sekali, namun tetap dapat menularkan virus ke orang lain. Tahap terakhir (AIDS) merupakan tahap infeksi HIV yang paling parah, ditandai dengan jumlah sel CD4 yang sangat rendah atau timbulnya infeksi oportunistik. Gejalanya meliputi:Penurunan berat badan drastis tanpa sebab yang jelas, berkeringat pada malam hari secara terus-menerus, diare kronis yang berlangsung lebih dari seminggu, batuk kering atau batuk berdarah, bercak putih pada mulut, lidah, atau tenggorokan (candidiasis), kelelahan ekstrim dan gangguan saraf/memori serta terjadinya infeksi berat seperti Pneumonia, Meningitis, atau Kaposi sarcoma.

Kami membantu menyediakan kit untuk screening dan diagnosis awal IMS yang dapat membantu memudahkan researcher maupun tenaga medis. Berikut beberapa item yang dapat kami supply:

No Brand No Katalog Nama Produk
1. Diasino RS017702 Anti-HIV1/2 Rapid Lateral FLow Test
2. Diasino RS017703 HIV Ag/Ab Combi Rapid Lateral FLow Test
3. Diasino RS017704 Syphilis TP Rapid Lateral FLow Test
4. Cortez Diagnostic 1465-P1 AccuDiag™ Syphilis (Anti-TP) IgG/IgM
5. Cortez Diagnostic 1463-P1 AccuDiag™ Syphilis (TPA) IgG
6. Cortez Diagnostic 1464-6 AccuDiag™ Syphilis (TPA) IgM
7. Cortez Diagnostic 351010 AccuDiag™ FTA-ABS (Syphilis) IFA Kit
8. Cortez Diagnostic 351010-T AccuDiag™ FTA-ABS (Syphilis) Titratable IFA Kit
9. Cortez Diagnostic 1516-12 HIV 1,2 ELISA Test
10. Cortez Diagnostic 1786 OneStep Gonorrhea RapiCard™ InstaTest

Apabila terdapat pertanyaan dan ingin berdiskusi lebih lanjut dapat menghubungi kami disini. Terimakasih.

Source:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534780/

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK558903/

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534860/

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448132/

https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9138-sexually-transmitted-diseases–infections-stds–stis