Webinar-Workshop: Studi In Vivo Pada Riset Bahan Alam

Webinar-Workshop: Studi In Vivo Pada Riset Bahan Alam

Gambar 1. Peserta dan Panitia Kegiatan Workshop

Gambar 1. Peserta dan Panitia Kegiatan Workshop

I. Pendahuluan

Pada tanggal 30 hingga 31 Januari 2026, PT Indogen Intertama bekerjasama dengan Departemen Farmasi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyelenggarakan kegiatan Webinar dan Workshop Studi in Vivo Pada Riset Bahan Alam di FKUI, Salemba, Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh civitas akademika, klinisi dan juga sektor swasta industri. Serangkaian kegiatan ini diawali dengan kegiatan webinar pada hari pertama. Berikut adalah pemateri dan judul materi yang disampaikan saat webinar.

Nama Materi
Dr. Dra. Puspita Eka Wuyung, MS Penanganan dan Pengembangan Model Hewan Coba untuk Studi In Vivo
Dr. apt. Desak Gede BK, M.Biomed Pengembangan Sediaan Obat Bahan Alam pada Riset dengan Hewan Coba
apt. Wilzar Fachri, S.Farm., M.Si Formulasi Nanopartikel dalam Pengembangan Obat Herbal Modern

Setelah webinar, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan workshop yang terdiri dari Pengujian ELISA, Animal Handling, Perhitungan Dosis untuk Riset Bahan Alam, Ekstraksi Bahan Alam, Pembuatan Sediaan Oral dan Topikal Bahan Alam, Sistem Penghantaran Obat Bahan Alam (Nanopartikel), Pengujian Kadar Protein.

II. Workshop Studi In Vivo Pada Riset Bahan Alam

A. ELISA

ELISA atau Enzyme-Linked Immunosorbent Assay adalah adalah pengujian untuk mendeteksi peptida, protein, antibodi dan hormon serta juga digunakan dalam pengukuran atau kuantifikasi pada sampel. Pengujian ELISA dilakukan pada polystyrene plate 96 dengan penambahan enzim pada sampel tertentu sehingga ikatan antara antigen dengan antibodi dapat dideteksi.

Secara garis besar, berikut adalah prinsip pengujian ELISA. Sampel yang mengandung biomarker (misalnya serum atau plasma) ditambahkan ke dalam sumur yang dilapisi dengan antibodi spesifik. Sampel yang akan dideteksi akan terikat pada antibodi spesifik. Setelah ikatan antigen-antibodi terbentuk, antibodi sekunder yang dilabeli dengan enzim ditambahkan. Antibodi sekunder juga akan terikat pada sampel yang mengandung biomarker. Substrat spesifik kemudian ditambahkan dan akan bereaksi dengan enzim pada antibodi sekunder untuk menghasilkan sinyal (berupa perubahan warna). Intensitas sinyal yang dihasilkan diukur menggunakan alat  ELISA reader/Microplate Reader. Kadar biomarker dalam sampel dapat dihitung dengan membandingkan intensitas sinyal dengan kurva standar yang telah dibuat sebelumnya.

Dalam kegiatan kali ini, sampel yang akan diuji adalah homogenat telinga dari tikus. Oleh karenanya perlu kit yang dapat menguji host tikus sehingga digunakan Rat ELISA Kit. Adapun biomarker yang ingin dihitung kadarnya dari sampel tersebut adalah Tumor Necrosis Factor-Alpha (TNF-α). Kit yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan produk dari vendor Elabscience yakni E-EL-R2856 Rat TNF-α(Tumor Necrosis Factor Alpha) ELISA Kit.

Berikut adalah kit yang digunakan dalam kegiatan workshop.

Gambar 2. ELISA Kit brand Elabscience yang digunakan dalam workshop

Gambar 2. ELISA Kit brand Elabscience yang digunakan dalam workshop

Elabscience adalah perusahaan bioteknologi yang mengkhususkan diri dalam pengembangan dan produksi reagen imunodiagnostik serta alat bantu riset untuk ilmu hayati, seperti kit ELISA, antibodi, protein rekombinan, serta berbagai reagen untuk imunologi, biologi sel, dan metabolisme. Produk-produk Elabscience telah banyak digunakan dalam penelitian akademik dan klinis, dengan puluhan ribu sitasi dalam jurnal-jurnal ilmiah bertopik biomedis dan life sciences. Penggunaan luas tersebut mencerminkan peran Elabscience sebagai penyedia reagents yang membantu peneliti memperoleh data kuantitatif dan kualitatif yang dapat dipublikasikan di literatur ilmiah internasional.

Gambar 3. Pengenalan komponen yang terdapat dalam kit dan fungsinya dalam pengujian

Gambar 3. Pengenalan komponen yang terdapat dalam kit dan fungsinya dalam pengujian

Dalam pengujian ini digunakan 7 well untuk standard, 1 well untuk blank, 3 well untuk sampel dengan pengenceran yang berbeda dan 1 well sampel ditambah standard sebagai kontrol positif seperti pada Gambar 4.

Gambar 4. Proses penambahan standard dan sampel pada well

Gambar 4. Proses penambahan standard dan sampel pada well

Adapun untuk prosedur kerja yang digunakan diadaptasi dari protokol kerja Elabscience dan disesuaikan (dimodifikasi) dengan waktu kegiatan yang tersedia. Berikut adalah gambaran protokol kerja yang dilakukan.

  1. Sampel yang digunakan dapat berupa darah, atau jaringan seperti lemak viseral, dll. Sampel berupa jaringan atau organ dibuat homogenat dengan homogenizer.
  2. Sampel di sentrifugasi pada durasi, waktu, dan kondisi suhu yang sudah ditentukan, supernatan digunakan untuk bahan pengujian.
  3. Selanjutnya, ke dalam setiap sumuran dimasukan 100μL standard atau sampel. Plat kemudian ditutup lalu diinkubasi selama 90 menit
  4. Setelah inkubasi selesai, cairan pada well dibuang kemudian ditambahkan 100μL biotin-antibody working solution, plat ditutup kembali kemudian diinkubasi selama 40 pada 37°C. Pada pengujian ini, durasi inkubasi dimodifikasi, sedangkan durasi sesuai protokol kit adalah 60 menit.
  5. Plat dicuci sebanyak tiga kali dengan washing buffer sebanyak 350uL pada setiap well.
  6. Selanjutnya, ditambahkan 100uL HRP Conjugate working solution, plat ditutup dan diinkubasi selama 25 menit pada suhu 37°C. Pada pengujian ini durasi inkubasi dimodifikasi, sedangkan durasi sesuai protokol kit adalah 30 menit.
  7. Plat dicuci sebanyak lima kali dengan washing buffer sebanyak 350μL pada setiap well.
  8. Ke dalam setiap well dimasukkan 90μL TMB substrate solution, plat ditutup dan diinkubasi selama 10 menit pada suhu 37°C. Pada pengujian ini durasi inkubasi dimodifikasi, sedangkan durasi sesuai protokol kit adalah 15 menit.
  9. Kemudian ditambahkan 50μL pada stop solution dan hasil reaksi dibaca di ELISA READER pada panjang gelombang 450nm.
Gambar 5. Peserta melakukan pengujian ELISA

Gambar 5. Peserta melakukan pengujian ELISA

Setelah penambahan stop solution, well kemudian dimasukan pada alat ELISA Reader untuk melihat nilai absorbansi yang didapat. Selanjutnya, dilakukan diskusi terkait hasil yang didapat dari tiga kelompok peserta.

 

Terkait hasil yang didapat dari ELISA Reader kemudian dapat diolah menggunakan aplikasi CurveExpert untuk menghasilkan Kurva Standar ELISA yang sesuai dengan perolehan data peserta. Dari hasil analisis untuk ketiga kelompok, semuanya mendapatkan nilai r di atas 0,9. Selain itu, dalam kesempatan ini, kami juga banyak berdiskusi dengan para peserta yang baru memulai pengerjaan ELISA ataupun sudah mahir dalam pengolahan dan interpretasi hasil ELISA.

Gambar 8. Diskusi dan Analisis Hasil Pengujian ELISA Rat TNF-α oleh Tim PT Indogen

Gambar 8. Diskusi dan Analisis Hasil Pengujian ELISA Rat TNF-α oleh Tim PT Indogen

B. Ekstraksi dan Sistem Pengantaran Bahan Alam

Guna mendapatkan sari atau ekstrak dari suatu bahan alam dapat dilakukan proses maserasi. Maserasi dilakukan dengan merendam bahan alam dalam suhu kamar menggunakan pelarut tertentu, misalnya aquades, etanol, dan pelarut lainnya selama beberapa hari yaitu 3 – 5 hari, umumnya 3 hari. Sesekali dilakukan pengadukan atau sonikasi dalam ultrasonic bath. Proses ultrasonik ini dapat merusak dinding sel tumbuhan sehingga metabolit/kandungan senyawa keluar dari sel, dengan demikian proses ekstraksi jadi lebih cepat (WHO, 2018).

Adapun untuk alat dan bahan yang digunakan sebagai berikut.

Alat: wadah maserasi, rotary evaporator, batang pengaduk, kertas saring, corong, beaker glass, gelas ukur dan erlenmeyer. Untuk bahannya meliputi simplisia (sampel), aquadest, dan etanol atau metanol.

Gambar 9. Pemaparan proses ekstraksi dan pengantaran bahan alam oleh Bapak apt. Wildzar Fachri, S.Farm., M.Si

Gambar 9. Pemaparan proses ekstraksi dan pengantaran bahan alam oleh Bapak apt. Wildzar Fachri, S.Farm., M.Si

Prosedur kerja secara umum meliputi:

  1. Bahan/simplisia yang diekstrak dicuci hingga bersih dan dikeringkan hingga tidak mengandung air di dalam lemari pengering atau dijemur dengan panas matahari.
  2. Setelah kering, di-grinder untuk mendapatkan ukuran bahan yang lebih kecil sehingga jumlah pori-pori bertambah banyak.
  3. Setelah bahan diekstrak/dimaserasi dengan pelarut air atau pelarut organik yang dibutuhkan, metabolit/senyawa/zat aktif tertarik ke dalam pelarut
    • Ekstraksi panas dilakukan jika pelarutnya adalah air dengan metode infus, yaitu pemanasan pada suhu 90°C selama 30 menit.
    • Ekstraksi dingin dilakukan dengan cara maserasi
  4. Maserasi atau ekstraksi dingin dilakukan jika pelarut yang digunakan adalah selain air, digunakan etanol atau metanol. Caranya melalui perendaman bahan di dalam pelarut tersebut selama 24 – 72 jam dan diaduk berulang-ulang hingga metabolit/senyawa/zat aktif bahan tertarik ke dalam pelarut. Setiap 24 jam pelarut ditampung, kemudian disimpan dalam lemari pendingin/kulkas. Pelarut diganti sejumlah yang sama dengan hari pertama. Perlakuan diulang pada hari ke tiga. Gabungan pelarut hari pertama hingga ketiga dievaporasi dengan menggunakan rotary evaporator, di atas waterbath pada suhu 50 -60°C hingga didapatkan hasil ekstrak berupa larutan kental (ekstrak kental).
  5. Kadar air dalam ekstrak kental diukur untuk dapat diketahui persentase senyawa kimia/zat aktifnya dengan menggunakan metode gravimetri yaitu pemanasan dengan oven hingga bobot tetap.

Bahan alam yang sudah diproses menjadi ekstrak, kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi sediaan atau bentuk formulasi lainnya. Salah satu aplikasi yang dapat dimanfaatkan yakni untuk formasi topikal herbal. Penggunaan sediaan topikal herbal dalam pengobatan kulit semakin meningkat karena efek samping yang minimal dan kompatibilitas biologis yang baik. Namun, hambatan penetrasi kulit menjadi tantangan utama efektivitas bahan aktif herbal. Teknologi nanopartikel terutama sistem nano vesikel seperti liposom, etosom dan transfersom menawarkan solusi untuk meningkatkan bioavailabilitas bahan aktif melalui rute topikal.

Gambar 10. Proses maserasi bahan alam

Gambar 10. Proses maserasi bahan alam

Dalam kesempatan ini, para peserta belajar membuat sediaan nanopartikel etosom. Dimana dalam sistem penghantaran etosom, etosom dapat dihantarkan ke lapisan kulit yang lebih dalam dengan meningkatkan fluiditas dan menurunkan kepadatan lipid multilapis. Adapun prosedur kerja yang digunakan sebagai berikut.

  1. Ekstrak herbal dan fosfatidilkolin ditimbang masing-masing 500mg.
  2. Ekstrak dilarutkan ke dalam 5mL etanol 70% di dalam beaker glass hingga homogen kemudian disisihkan.
  3. Fosfatidilkolin dilarutkan ke dalam 50mL DCM (diklorometan) di dalam beaker glass 250mL, aduk hingga homogen menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan 500rpm.
  4. Larutan ekstrak (poin 2) ditambahkan ke dalam larutan fosfatidilkolin (poin 3) menggunakan pipet tetes/biuret secara perlahan/tetes demi tetes dengan tetap diaduk menggunakan magnetic stirrer selama 3 jam.
  5. Setelah larutan homogen, campuran ditambahkan ke dalam labu evaporasi untuk kemudian diuapkan menggunakan rotary evaporator suhu 40°C hingga seluruh pelarut etanol dan DCM menguap dan terbentuk lapisan tipis di dasar labu.
  6. Alirkan gas N2 selama beberapa waktu hingga seluruh permukaan lapis tipis mengering, selanjutnya disimpan selama semalam dalam lemari es, suhu 4°C.
  7. Etanol 20% ditambahkan ke dalam labu evaporasi yang berisi 20mL PBS, dihomogenkan menggunakan rotary evaporator dengan kecepatan 150rpm selama 30 menit sampai terbentuk suspensi etosom, tambahkan batu didih bersuhu 30 – 50°C.
  8. Suspensi yang terbentuk kemudian disonikasi dalam Water Sonication selama 5 menit.
  9. Lalu 20% ditambahkan ke dalam labu evaporasi yang sudah berisi 20mL PBS.

C. Formulasi Sediaan Herbal

Ekstrak kental yang telah melalui berbagai pengukuran sesuai ketentuan dalam Materia Medika Indonesia (BPOM) dapat diformulasi ke dalam berbagai sediaan herbal, baik untuk obat dalam maupun obat luar. Sediaan herbal memiliki jenis formulasi yang berbeda-berbeda, berikut adalah gambaran untuk formulasi sediaan herbal yang dibuat dalam kegiatan workshop.

1. Gel

Gel adalah sistem semi/setengah padat yang terdiri atas suspensi yang dibuat dari partikel anorganik kecil atau molekul organik besar, yang terpenetrasi oleh suatu cairan. Gel biasa terdiri atas bahan aktif dan eksipien seperti gelling agent. Pembuatan gel dimulai dengan menyiapkan alat dan bahan yang sudah dalam kondisi bersih. Kemudian, semua bahan ditimbang sesuai protokol dan ekstrak kental dihomogenkan dengan sedikit akuades. Selanjutnya, serbuk CMC-Na diaduk dengan sebagian aquades menggunakan mortar dan stamper hingga membentuk campuran kental kemudian didispersikan dengan sisa akuades, diaduk hingga membentuk gel yang sempurna. Setelah gel terbentuk, tambahkan ekstrak pegagan dan diaduk hingga homogen. Sediaan gel pegagan dimasukan ke dalam pot/wadah.

Gambar 11. Proses formulasi sediaan herbal oleh peserta

Gambar 11. Proses formulasi sediaan herbal oleh peserta

2. Krim

Krim merupakan sediaan setengah padat yang diperuntukan untuk pemakaian luar. Krim secara umum terbagi atas Oil in Water (O/W) atau Water in Oil (W/O). Krim dengan tipe W/O adalah cold cream, dan krim tipe O/W adalah vanishing cream. Bahan-bahan penyusun dalam krim terdiri atas zat berkhasiat, fase minyak, fase air, dan bahan pengemulsi.

Untuk jenis sediaan krim yang dibuat adalah cold cream. Untuk bahan yang digunakan meliputi Cera flava, Cetacium, Adeps lanae, Oleum Sesamie, Aqua rosarum. Semua bahan kecuali aqua rosarum dimasukan ke dalam cawan porselen, lalu diaduk. Cawan porselen tersebut diletakkan di atas waterbath sampai semua bahan meleleh sambil diaduk-aduk. Mortar dan stamper kemudian dipanaskan dengan cara memasukan air panas ke dalam mortar dan stampernya. Setelah panas, air kemudian dibuang dan mortar stamper dikeringkan. Bahan yang sudah meleleh dimasukan ke dalam mortar sambil diaduk sampai homogen. Setelah dingin, aqua rosarum ditambahkan tetes demi tetes sambil diaduk terus menerus.

Jenis krim lainnya yang dibuat adalah Salep. Untuk salep ini hanya menggunakan dua bahan yakni vaseline dan ekstrak herbal. Ketika semua bahan dan alat disiapkan dalam kondisi bersih, kemudian bahan ditimbang. Ke dalam mortar dimasukan vaselin dan ekstrak pegagan yang sudah ditimbang dan dihomogenkan. Campuran diaduk hingga homogen hingga terbentuk salep

3. Ovula

Ovula adalah sediaan farmasi berupa supositoria berbentuk seperti ovum yang diberikan melalui rute vagina, biasanya untuk tujuan efek lokal. Untuk bahan yang digunakan pada pembuatan jenis sediaan ini adalah Cetaceum, Cera alba, Oleum Cacao, PEG 400 dan Ekstrak Herbal.. Ekstrak herbal yang kental dilarutkan dengan sedikit air. Semua bahan kecuali ekstrak dan PEG ditempatkan pada cawan porselin dan dicairkan di atas hotplate. Setelah cair, ditambahkan PEG 400 dan diaduk hingga homogen kemudian dibiarkan hingga dingin. Kemudian, ditambahkan ekstrak dan diaduk hingga homogen. Campuran yang masih cair dimasukkan ke dalam cetakan ovula kemudian dimasukan ke dalam freezer selama 15 menit.

D. Animal Handling

Dr. Dra. Puspita Eka Wuyung, pemateri pada Webinar, menyampaikan pengenalan lebih lanjut terkait bagaimana cara memegang mencit dan tikus. Berikut adalah prosedur handling mencit dengan baik untuk menunjang kegiatan penelitian.

  1. Pegang ekor mencit ke arah atas dengan tangan kanan lalu letakkan mencit di atas kawat kandang sehingga mencit mencengkram kawat tersebut
  2. Jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri mencubit tengkuk mencit
  3. Ekor dipindahkan dengan tangan kanan, dijepit di antara jari kelingking dan jari manis tangan kiri
  4. Mencit telah terpegang oleh tangan kiri dan siap untuk diberi perlakuan

Adapun untuk memegang tikus diawali dengan tikus diangkat lalu diletakkan tangan pada bagian dada tikus. Ibu jari diletakkan di bawah rahang tikus agar tikus menjadi tenang. Selain itu para peserta juga diajarkan bagaimana untuk melakukan anestesi dan pembedahan pada hewan uji seperti pada gambar berikut.

Gambar 13. Pembelajaran Animal Handling

Gambar 13. Pembelajaran Animal Handling

Penggunaan model hewan dalam penemuan dan pengembangan obat berperan penting seperti untuk patofisiologi penyakit, identifikasi target obat, evaluasi agen terapeutik baru, toksisitas/keamanan, farmakokinetik, farmakodinamik, dan kemanjuran obat. Beberapa alasan penggunaan hewan untuk penelitian diantaranya:

  • Organ dan sistem tubuh mirip dengan manusia
  • Rentan terhadap penyakit yang menginfeksi manusia
  • Masa hidupnya singkat
  • Tidak menunjukan rasa sakit
  • Lingkungan hidupnya dapat dikontrol → mengurangi variabel perancu

III. Referensi

Tim Penyusun Workshop Dept. Farmasi Kedokteran FKUI. (2026). Buku Panduan Workshop: Studi In Vivo Pada Riset Bahan Alam.