Penemuan DNA sebagai biomolekul pewarisan genetik dan penyakit membuka prospek terapi di mana gen mutan atau rusak dapat diubah untuk meningkatkan kondisi manusia. Kemampuan terkini untuk melakukan genetika manusia secara cepat dan terjangkau pada ratusan ribu orang, dan untuk mengurutkan genom lengkap, telah menghasilkan ledakan informasi urutan asam nukleat dan memungkinkan kita untuk mengidentifikasi gen, atau gen-gen, yang mungkin mendorong penyakit tertentu.
Adeno-associated virus (AAV) merupakan salah satu sarana terapi gen yang paling aktif diteliti. AAV terdiri atas selubung protein yang membungkus dan melindungi genom DNA untai tunggal berukuran kecil, yakni sekitar 4,8kb. AAV termasuk dalam famili parvovirus dan bergantung pada koinfeksi dengan virus lain untuk dapat bereplikasi, utamanya adalah adenovirus. Genom untai tunggalnya memuat tiga gen, yaitu Rep (Replikasi), Cap (Kapsid), dan aap (Perakitan). Ketiga gen ini menghasilkan setidaknya sembilan produk gen melalui penggunaan tiga promotor, situs awal translasi alternatif, dan penyambungan (splicing) diferensial.
Gen Rep mengkodekan 4 protein yang dibutuhkan untuk replikasi viral genome, yaitu Rep78, Rep68, Rep52 dan Rep40. Gen Cap mengekspresikan protein kapsid virus yang menjadi tameng utama virus, yaitu VP1/VP2/VP3. Kapsid virus juga terkait dengan binding terhadap sel inang dan juga internalisasi sel. Sedangkan gen aap mengkodekan assembly-activating protein (AAP) yang berfungsi sebagai kerangka untuk pembentukan kapsid.

Gambar 1. Struktur Kapsid AAV
Source: https://aavnergene.com/novel-aav-capsids/aav-capsid-structure/
Pemilihan Vektor
Aspek utama yang perlu dipertimbangkan dalam desain rasional vektor rAAV adalah ukuran pengemasan kaset ekspresi yang akan ditempatkan di antara kedua ITR. Awalnya disepakati bahwa ukuran di bawah 5 kb (termasuk ITR virus) sudah memadai. Upaya untuk menghasilkan vektor rAAV dengan kaset pengemasan melebihi 5 kb mengakibatkan penurunan signifikan dalam hasil produksi virus atau terjadinya rekombinasi transgenik. Meskipun awal mula ekspresinya berlangsung secara cepat, pada beberapa kasus kapasitas kaset vektor ini perlu untuk dikurangi menjadi sekitar 3,3 kb.
AAV2 merupakan salah satu serotipe AAV pertama yang diidentifikasi dan dikarakterisasi, termasuk urutan genomnya. Berkat pemahaman mendalam mengenai biologi AAV2 yang diperoleh dari penelitian awal tersebut, sebagian besar vektor rAAV yang diproduksi saat ini menggunakan ITR AAV2 dalam desain vektornya. Urutan yang ditempatkan di antara ITR tersebut biasanya mencakup promotor mamalia, gen target, dan terminator. Contoh promotor jenis ini yang umum digunakan meliputi promotor/enhancer CMV (cytomegalovirus), EF1a (elongation factor 1a), SV40 (simian virus 40), β-actin ayam, dan CAG (CMV, β-actin ayam, β-globin kelinci). Semua promotor tersebut menghasilkan ekspresi gen tingkat tinggi yang aktif secara konstitutif pada sebagian besar jenis sel. Namun, beberapa promotor ini dapat mengalami pembungkaman (silencing) pada jenis sel tertentu, sehingga aspek ini perlu dipertimbangkan untuk setiap aplikasi.
Seleksi dan Optimasi Kapsid AAV
AAV memasuki sel melalui interaksi awal dengan karbohidrat yang terdapat pada permukaan sel target, yang umumnya berupa asam sialat, galaktosa, dan heparin sulfat. Perbedaan halus dalam preferensi pengikatan gula dapat mempengaruhi preferensi transduksi berbagai varian AAV terhadap jenis sel tertentu. Pengikatan karbohidrat ini ditentukan oleh perbedaan urutan kapsid. Sebagai contoh, AAV9 memiliki preferensi untuk berikatan dengan sel melalui galaktosa akibat perbedaan asam amino yang unik pada urutan kapsidnya. Selain karbohidrat utama, reseptor sekunder juga berperan dalam induksi awal virus, seperti AAV2 menggunakan integrin αVβ5 and α5β1, AAV6 menggunakan reseptor growth factor dan AAV5 menggunakan reseptor platelet-derived growth factor. Beberapa studi terakhir juga bahwa AAVR diidentifikasi menjadi reseptor kritis untuk internalisasi dan binding sel.
Berikut merupakan informasi vektor AAV dan juga reseptornya disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Vektor AAV yang telah terseleksi, reseptor dan tropismenya
| Varian AAV | Tropisme Jaringan | Reseptor |
| 1 | N/Sk | SA |
| 2 | Broad | HS, FGFR/HGFR, LR, a5b1 |
| 5 | N, RPE, PR | SA, PDGFR |
| 6 | Sk, Lg | SA, HS, EGFR |
| 8 | Lv, Sk, H, P | LR |
| 9 | Lv, Sk, Lg | G, LR |
Keterangan: AAV: adeno-associated virus; EGFR: epidermal growth factor receptor; FGFR: fibroblast growth factor receptor: G: galactose; H: heart; HGFR: hepatocyte growth factor receptor; HS: heparan sulfate: Lg: lung; LR: laminin receptor; Lv: liver; N: neuronal; P: pancreas; PDGFR: platelet-derived growth factor receptor; PR: photoreceptors; RPE: retinal pigmented epithelia; SA: sialic acid; Sk: skeletal muscle.
Pemilihan jenis AAV tertentu sebagai vektor transfer gen sangat bergantung pada beberapa kriteria krusial seperti berikut:
Manufaktur AAV untuk Penggunaan Klinis
Seperti kebanyakan bioterapi, AAV perlu diproduksi dalam sistem hidup. Berikut merupakan ilustrasi prosedur manufaktur AAV untuk penggunaan klinis.

Gambar 2. Gambaran umum produksi/pemurnian AAV
Strategi Delivery AAV untuk terapi
Produk Riset AAV
Berikut kami sertakan pada artikel ini beberapa produk terkait riset untuk AAV dari ABM Good yang dapat kami supply.
Tabel 2. Item riset terkait AAV
| No | Brand | No Catalog | Nama Produk |
| 1. | ABM Good | AAV001a | AAV-CMV-Blank Control Vector |
| 2. | ABM Good | AAV016a | AAV-CMV-Blank-CBh-GFP Control Vector |
| 3. | ABM Good | AAV022a | AAV Blank Control Vector (hSyn) |
| 4. | ABM Good | AAV1001 | AAV Packaging Mix (Serotype 1) |
| 5. | ABM Good | AAV1002 | AAV Packaging Mix (Serotype 2) |
| 6. | ABM Good | AAV1003 | AAV Packaging Mix (Serotype 3) |
| 7. | ABM Good | AAV100 | AAV Serotype Blast™ Kit, High Titer |
Berikut merupakan sekilas informasi yang dapat kami sampaikan terkait AAV. Apabila terdapat kebutuhan dan ingin berdiskusi lebih lanjut dapat menghubungi kami pada kontak berikut. Terimakasih dan sampai jumpa di artikel selanjutnya!
Source:
WhatsApp us