Apa yang Terjadi Ketika Kulit Mengalami Luka?
Kulit merupakan lapisan pelindung tubuh yang berperan penting dalam mencegah masuknya mikroorganisme dan menjaga keseimbangan lingkungan internal. Ketika terjadi luka, tubuh akan segera mengaktifkan respons biologis yang melibatkan sel imun, sel kulit, pembuluh darah, dan berbagai mediator inflamasi untuk membersihkan jaringan yang rusak serta memulai proses perbaikan.
Salah satu komponen penting dalam proses ini adalah leukosit atau sel darah putih. Sel-sel tersebut bermigrasi menuju area luka untuk membantu mengendalikan kontaminasi mikroba, membersihkan jaringan yang rusak, dan mengatur proses regenerasi jaringan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dinamika leukosit pada jaringan dermal dalam penelitian penyembuhan luka, khususnya ketika mengevaluasi material biomaterial, sediaan topikal, kandidat terapi, atau produk yang berpotensi bersentuhan langsung dengan jaringan kulit.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mempelajari populasi sel leukosit tersebut adalah dengan flow cytometry atau sitometri aliran. Metode ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi dan menghitung berbagai populasi sel berdasarkan karakteristik fisik serta penanda molekuler yang terdeteksi melalui fluoresensi.
Dinamika Dasar Luka dan Peran Leukosit Dermal
A. Dinamika Dasar Luka dan Peran Leukosit Dermal
Proses penyembuhan luka berlangsung melalui beberapa fase yang saling berhubungan, bukan sebagai tahapan yang sepenuhnya terpisah.

Gambar 1. Gambaran tahapan dalam penyembuhan luka (Saber dkk., 2024)
Pada model luka kulit mencit, perubahan populasi neutrofil, monosit, dan makrofag dapat diamati pada berbagai waktu setelah cedera. Luka yang mengalami gangguan penyembuhan dapat memperlihatkan persistensi populasi inflamasi pada fase yang lebih lanjut dibandingkan luka yang sembuh secara normal. Dengan demikian, pengamatan leukosit tidak cukup hanya dilakukan pada satu titik waktu. Analisis serial dapat memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai dinamika inflamasi dan hubungannya dengan perkembangan luka (Joshi dkk., 2020).
B. Mengapa Flow Cytometry Penting untuk Pemprofilan Leukosit?
Flow cytometry merupakan metode analisis sel individual yang melewati berkas laser. Sinyal hamburan cahaya memberikan informasi mengenai karakteristik fisik sel, sedangkan fluoresensi dari antibodi berlabel atau pewarna tertentu membantu mengidentifikasi penanda yang menjadi target analisis.
Dalam penelitian luka dermal, jaringan dapat diproses menjadi suspensi sel tunggal, kemudian diberi panel antibodi yang sesuai dengan spesies model hewan. Populasi leukosit selanjutnya diidentifikasi berdasarkan kombinasi penanda dan strategi gating yang tervalidasi. Beberapa penanda yang umum dipertimbangkan dalam penelitian pada mencit meliputi:
| Penanda | Kegunaan dalam analisis |
| CD45 | Mengidentifikasi populasi leukosit secara umum |
| CD11b | Membantu mengidentifikasi berbagai populasi sel mieloid |
| Ly6G | Membantu mengidentifikasi neutrofil mencit |
| Ly6C | Membantu membedakan sub populasi monosit dan sel mieloid tertentu |
| F4/80 | Membantu mengidentifikasi populasi makrofag mencit |
| CD206 | Dapat membantu mengkarakterisasi keadaan fungsional makrofag dalam konteks panel yang sesuai |
Penanda tersebut perlu digunakan dalam kombinasi yang tepat. Sebagai contoh, CD11b saja tidak cukup spesifik untuk mengidentifikasi neutrofil atau makrofag. Identitas sel perlu ditentukan berdasarkan kombinasi penanda, kontrol eksperimen, dan strategi gating yang sesuai.
Sebagai referensi penggunaan bahan di laboratorium, Elabscience menyediakan antibodi berkonjugasi fluorofor untuk berbagai target seluler termasuk sejumlah penanda imunologi pada mencit. Produk ini dapat dipertimbangkan untuk menyusun panel pemprofilan leukosit sesuai dengan spesies, target, dan konfigurasi instrumen yang digunakan.
| Nomor Catalog | Nama Produk |
| E-AB-F1135E | APC Anti-Mouse CD206/MMR Antibody[C068C2] |
| E-AB-F1161C | FITC Anti-Human CD206/MMR Antibody[15-2] |
| E-AB-F1137R | Elab Fluor® Violet 500 Anti-Human CD45 Antibody[HI30] |
| E-AB-F1136J | PerCP/Cyanine5.5 Anti-Mouse CD45 Antibody[30-F11] |
| E-AB-F1081Q | Elab Fluor® Violet 450 Anti-Mouse/Human/Monkey CD11b Antibody[M1/70] |
| E-AB-F1081T | Elab Fluor® Violet 610 Anti-Mouse/Human/Monkey CD11b Antibody[M1/70] |
| E-AB-F1108D | PE Anti-Mouse Ly6G Antibody[1A8] |
| E-AB-F1108H | PE/Cyanine7 Anti-Mouse Ly6G Antibody[1A8] |
| E-AB-F1121US | Elab Fluor® Red 780 Anti-Mouse Ly6C Antibody[Monts 1] |
| E-AB-F1121UG | PE/Cyanine5 Anti-Mouse Ly6C Antibody[Monts 1] |
| E-AB-F0995P | PE/Elab Fluor® 594 Anti-Mouse F4/80 Antibody[CI:A3-1] |
| E-AB-F0995UM | Elab Fluor® 647 Anti-Mouse F4/80 Antibody[CI:A3-1] |
Pada dasarnya, untuk pemilihan fluorofor kita perlu mempertimbangkan laser dan filter deteksi instrumen, tumpang tindih spektrum emisi, kontrol kompensasi atau spectral unmixing, serta intensitas ekspresi target.
C. Menghubungkan Profil Leukosit dengan Viabilitas Bakteri
Dalam penelitian luka yang berpotensi terkontaminasi mikroorganisme, respons leukosit perlu dipahami bersama data mengenai keberadaan dan viabilitas bakteri. Viabilitas bakteri menggambarkan kemampuan bakteri untuk tetap hidup atau mempertahankan fungsi biologis tertentu. Pengukurannya tidak selalu sama dengan pengukuran jumlah bakteri total, karena deteksi materi genetik atau sinyal fluoresensi saja belum tentu membuktikan bahwa bakteri masih hidup.
Secara konseptual, dua kelompok data dapat dibandingkan melalui:
| Data | Perbandingan |
| Data mikrobiologi | Jumlah bakteri hidup melalui metode yang sesuai dan tervalidasi, misalnya penghitungan koloni atau colony-forming units (CFU). |
| Data imunologi | Perubahan jumlah atau proporsi neutrofil, monosit, dan makrofag pada jaringan luka melalui flow cytometry. |
Apabila jumlah bakteri hidup menurun bersamaan dengan perubahan infiltrasi leukosit, temuan tersebut dapat membantu menggambarkan hubungan antara beban mikroba dan respons imun. Namun, hubungan tersebut tidak otomatis membuktikan sebab-akibat. Hasilnya perlu ditafsirkan bersama kondisi luka, kelompok kontrol, waktu pengamatan, dan karakteristik perlakuan.
BNCC (BeNa Culture Collection) menyediakan berbagai sumber daya biologis untuk penelitian, termasuk strain mikroba dan bahan kontrol biologis. Karena itu, koleksi strain BNCC dapat dipertimbangkan ketika penelitian membutuhkan bahan mikrobiologi yang teridentifikasi dan memiliki informasi produk yang dapat ditelusuri. Kesesuaian strain untuk penelitian tertentu tetap perlu diperiksa berdasarkan identitas, dokumentasi, dan tujuan pengujian.
| No. produk | Nama strain/produk | Jenis produk |
| BNCC354700 | Pseudomonas aeruginosa | Quantitative strain |
| BNCC351958 | Staphylococcus aureus subsp. aureus 502A | Quantitative strain |
| BNCC393137 | Staphylococcus aureus | Quantitative strain |
| BNCC352056 | Klebsiella pneumoniae | Quantitative strain |
| BNCC388950 | Pseudomonas aeruginosa | Quantitative strain |
| BNCC353780 | Escherichia coli | Quantitative strain |
| BNCC364009 | Enterococcus faecalis | Quantitative strain |
| BNCC359087 | Bacillus subtilis | Counting standard substance |
D. Biokompatibilitas: Apakah Material Aman bagi Jaringan?
Biokompatibilitas menggambarkan kemampuan suatu material atau produk untuk memberikan respons biologis yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Dalam penelitian luka dermal, evaluasi ini penting untuk material penutup luka, hidrogel, scaffold, bahan topikal, maupun kandidat produk yang bersentuhan dengan jaringan.
Penilaian biokompatibilitas tidak cukup hanya berdasarkan satu parameter. Respons sel, potensi inflamasi, dan efek toksik perlu dipertimbangkan sesuai karakteristik material serta tujuan penggunaannya. Beberapa parameter yang dapat dipertimbangkan meliputi:
Evaluasi interaksi antara material dan sel secara in vitro memerlukan produk kultur sel serta reagen pendukung yang sesuai dengan tujuan pengujian. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Procell System menyediakan berbagai produk yang dapat dipertimbangkan dalam penelitian biokompatibilitas. Berikut adalah beberapa produk Procell System yang relevan untuk mendukung penelitian tersebut.
| Nomor katalog | Nama produk | Kegunaan dalam penelitian |
| PM150210 | DMEM (High glucose) | Media dasar kultur sel untuk pengujian biokompatibilitas menggunakan jenis sel yang sesuai. |
| PM150221 | DMEM (High glucose), 2× | Media konsentrat 2×; penggunaannya mengikuti petunjuk produk dan kebutuhan formulasi. |
| PM150223 | DMEM (High glucose), without phenol red | Alternatif media tanpa phenol red untuk aplikasi yang memerlukan formulasi tersebut. |
| PM150213 | DMEM (High glucose), without L-glutamine | Media dengan komposisi glutamin berbeda, jika diperlukan oleh rancangan penelitian. |
| PM150217 | DMEM (High glucose), with HEPES | Alternatif media dengan penyangga HEPES. |
| PM150223A | DMEM (High glucose), with P/S, without phenol red | Alternatif media dengan penicillin–streptomycin. |
| PM150230 | DMEM (High glucose), with L-alanyl-L-glutamine | Media dengan sumber glutamin stabil untuk kultur sel tertentu. |
| PM150226 | DMEM (High glucose), with HEPES, without phenol red | Alternatif formulasi media. |
E. Sitotoksisitas Sel Inang: Membedakan Efek Antimikroba dan Kerusakan Sel
Salah satu tantangan dalam pengembangan produk untuk luka adalah memastikan bahwa efek terhadap bakteri tidak disertai kerusakan berlebihan pada sel inang. Sitotoksisitas merupakan efek merugikan terhadap sel, misalnya gangguan integritas membran, penurunan viabilitas, atau kematian sel. Dalam pengujian in vitro, efek tersebut dapat dinilai menggunakan metode yang sesuai dengan karakteristik sel dan bahan uji.
Flow cytometry dapat digunakan untuk mengevaluasi viabilitas dan kematian sel melalui pewarna eksklusi membran, serta untuk membedakan tahap apoptosis dan kematian sel lain menggunakan kombinasi penanda yang tepat. Sebagai contoh, kombinasi Annexin V dan propidium iodide (PI) dapat membantu membedakan populasi sel hidup, sel dengan karakteristik apoptosis awal, dan sel dengan kehilangan integritas membran. Berikut adalah daftar produk Elabscience yang dapat mendukung pengujian sitotoksisitas pada sel.
| Nomor katalog | Nama Produk | Kegunaan |
| E-CK-A211 | Annexin V-FITC/PI Apoptosis Kit | Membedakan populasi sel hidup, apoptosis awal, serta apoptosis lanjut atau sel yang kehilangan integritas membran. |
| E-CK-A217 | Annexin V-APC/PI Apoptosis Kit | Alternatif analisis apoptosis menggunakan fluorofor APC dan PI. |
| E-CK-A354 | Calcein AM/PI Double Staining Kit | Membedakan sel hidup dan mati berdasarkan aktivitas esterase dan integritas membran. |
| E-CK-A362 | Enhanced Cell Counting Kit 8 (WST-8/CCK8) | Menilai aktivitas metabolik sebagai indikator tidak langsung jumlah sel hidup. |
| E-CK-A341 | MTT Cell Proliferation and Cytotoxicity Assay Kit | Mengevaluasi aktivitas metabolik sel untuk memperkirakan viabilitas dan efek sitotoksik. |
| E-BC-K771-M | Lactate Dehydrogenase (LDH) Cytotoxicity Colorimetric Assay Kit | Mengukur pelepasan LDH sebagai indikator kerusakan membran sel. |
Untuk pertanyaan produk dan stock lebih lanjut Bapak/Ibu dapat menghubungi kontak yang tertera pada laman website Indogen berikut. Terima kasih.
Referensi
Joshi, N., et al. (2020). Comprehensive characterization of myeloid cells during wound healing in healthy and healing-impaired diabetic mice. European Journal of Immunology, 50, 1335–1349. https://doi.org/10.1002/eji.201948438
Saber, Sameh & Abdelhady, Rasha & Elhemely, Mai & Elmorsy, Elsayed A. & Hamad, Rabab & Abdel-Reheim, Mustafa & El-kott, Attalla & Alshehri, Mohammed & Morsy, Kareem & Negm, Sally & Kira, Ahmed Y.. (2024). Nanoscale Systems for Local Activation of Hypoxia-Inducible Factor-1 Alpha: A New Approach in Diabetic Wound Management. International Journal of Nanomedicine. 19. 13735-13762. 10.2147/IJN.S49704
Artikel Terkait
WhatsApp us