
Gambar 1. Foto Bersama Tim Elabscience
“High-quality research begins with high-quality cells and ends with reliable data.”
Pendahuluan
Dalam penelitian imunologi dan biologi sel, memperoleh populasi sel target dengan tingkat kemurnian dan viabilitas yang tinggi merupakan langkah awal yang sangat menentukan kualitas hasil penelitian. Berbagai aplikasi seperti flow cytometry, cell culture, ELISPOT, functional assay, hingga single-cell sequencing membutuhkan populasi sel yang spesifik agar menghasilkan data yang akurat dan dapat direproduksi. Setelah populasi sel target diperoleh, analisis biomarker, seperti sitokin menggunakan metode ELISA, menjadi tahapan penting untuk memahami respons biologis maupun mekanisme penyakit secara lebih mendalam.
Seiring berkembangnya teknologi penelitian, metode Magnetic-Activated Cell Sorting (MACS) menjadi salah satu solusi yang banyak digunakan untuk mengisolasi sel secara cepat dan efisien. Untuk memperdalam pemahaman mengenai teknologi tersebut, PT Indogen Intertama berkesempatan mengikuti Hands-on Training EasySort™ Magnetic Cell Isolation dan Human IL-6 ELISA di Laboratorium Elabscience pada tanggal 9 – 10 Juli 2026.
Selama dua hari pelatihan, kami memperoleh pengalaman langsung mulai dari preparasi sampel, proses isolasi sel menggunakan teknologi magnetik, hingga analisis menggunakan flow cytometry. Selain itu, kami juga mempelajari teknik kuantifikasi biomarker inflamasi menggunakan Human IL-6 ELISA Kit sehingga pelatihan ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai workflow penelitian di bidang imunologi. Kegiatan ini didampingi oleh Alexa Luo, Sales Manager Elabscience dan Dr. Sundas Qureshi, Global Scientific Liaison Elabscience, yang turut berbagi wawasan mengenai teknologi dan aplikasi Elabscience
EasySort™: Solusi Magnetic Cell Isolation yang Praktis dan Efisien
Cell isolation merupakan proses memperkaya atau memurnikan populasi sel tertentu dari suatu sampel biologis sebelum digunakan pada berbagai aplikasi penelitian. Beragam metode dapat digunakan untuk tujuan tersebut, mulai dari density gradient centrifugation, Fluorescence-Activated Cell Sorting (FACS), hingga Magnetic-Activated Cell Sorting (MACS). Dibandingkan metode lain, MACS menawarkan proses yang lebih sederhana, waktu pengerjaan yang lebih singkat, serta mampu mempertahankan viabilitas sel dengan baik.

Gambar 2. Produk EC001 EasySort™ Seven-5 Magnet dari Elabscience
Salah satu teknologi yang diperkenalkan selama pelatihan adalah EasySort™ Cell Isolation System dari Elabscience. Platform ini menggunakan column-free magnetic separation sehingga proses isolasi dapat dilakukan tanpa menggunakan kolom magnetik dan dengan alur kerja yang lebih sederhana. Selain itu, EasySort™ menawarkan beberapa keunggulan lain, antara lain:
Hands-on Workflow: Dari Jaringan Spleen hingga Analisis Flow Cytometry

Gambar 3. Foto Bersama Mr. Chen, Technical Support Flowcytometry Elabscience
Sesi pelatihan yang dipandu oleh Mr. Chen tidak hanya memperkenalkan produk EasySort™, tetapi juga memberikan pengalaman mengikuti keseluruhan workflow cell isolation yang umum dilakukan dalam penelitian imunologi.
1. Preparasi Sampel
Pelatihan diawali dengan proses pengambilan jaringan spleen dari mencit sebagai sumber sel imun. Organ ini dipilih karena mengandung berbagai populasi sel imun termasuk Natural Killer (NK) Cell, yang menjadi target isolasi pada pelatihan kali ini.
| Image | Image |
![]() Gambar 4. Proses euthanasia dan persiapan membedah |
![]() Gambar 5. Mencit yang akan dibedah |
![]() Gambar 6. Proses pembedahan |
![]() Gambar 7. Jaringan limpa (spleen) yang diisolasi |
2. Pembuatan Single Cell Suspension
Jaringan spleen kemudian dihancurkan secara mekanik hingga menghasilkan single-cell suspension. Suspensi sel yang terbentuk selanjutnya disaring untuk menghilangkan sisa jaringan dan debris sehingga diperoleh populasi sel yang homogen. Tahapan ini menjadi salah satu langkah penting karena kualitas suspensi sel akan mempengaruhi efisiensi proses magnetic cell isolation.
Setelah dikumpulkan dalam tabung sentrifugasi, dan disentrifugasi pada 300g selama 5 menit untuk memisahkan sel dari supernatan. Setelah supernatan dibuang, pelet sel disuspensikan kembali menggunakan isolation buffer dan disaring kembali melalui 70 μm nylon cell strainer untuk memperoleh suspensi sel yang lebih homogen. Tahap akhir preparasi dilakukan dengan menghitung jumlah sel dan menyesuaikan konsentrasinya sesuai kebutuhan sebelum proses Magnetic Cell Isolation menggunakan EasySort™.
| Image | Image |
![]() Gambar 8. Penyiapan 70 μm mesh nylon strainer untuk proses disosiasi |
![]() Gambar 9. Proses disosiasi jaringan secara mekanik (grinding) |
![]() Gambar 10. Hasil disosiasi jaringan |
![]() Gambar 11. Proses penyaringan jaringan yang telah disosiasi pada larutan PBS |
![]() Gambar 12. Suspensi sel yang siap disentrifugasi |
![]() Gambar 13. Proses sentrifugasi |
![]() Gambar 14. Hasil sentrifugasi |
![]() Gambar 15. Proses pembuangan supernatan dan resuspensi pelet dengan isolation buffer |
![]() Gambar 16. Produk Isolation Buffer brand Elabscience |
3. Cell Counting
Sebelum dilakukan isolasi, jumlah sel dihitung menggunakan flow cytometry untuk memastikan konsentrasi sel sesuai dengan protokol EasySort™. Tahap ini juga memberikan pemahaman bahwa kualitas preparasi sampel menjadi faktor penting dalam memperoleh hasil isolasi yang optimal.
| Image | Image |
![]() Gambar 17. Loading sel suspensi ke dalam well |
![]() Gambar 18. Running Counting Cells menggunakan flow cytometer |
Dari perhitungan di atas, diketahui bahwa jumlah sel per mL adalah 1,6 x 10^8 cells. Adapun karena jumlah sel yang dibutuhkan untuk analisa dengan kit Elabscience berjumlah 2 x 10^8 cells/mL maka volume sel suspensi yang harus kita persiapkan dari tahapan sebelumnya sebanyak 62,5μL yang selanjutnya disentrifugasi kemudian dibuang supernatannya dan ditambah 50μL isolation buffer untuk persiapan tahapan inkubasi antibodi.
4. Inkubasi Cell Isolation Cocktail dan Beads

Gambar 19. Produk EasySort™ Mouse NK Cell Isolation Kit (MIM005N)
Sebanyak 50 μL suspensi sel (sekitar 1 × 10⁷ sel) diinkubasi dengan 7 μL Mouse NK Cell Isolation Cocktail selama 10 – 15 menit pada suhu ruang setelah dihomogenkan secara perlahan (pipetting up and down). Tahap ini bertujuan untuk melabeli populasi sel non-target sebelum proses Magnetic Cell Isolation dilakukan.
Setelah proses inkubasi selesai, suspensi sel disentrifugasi selama 5 menit untuk mengumpulkan sel. Supernatan kemudian dibuang, dan pelet sel disuspensikan kembali menggunakan 50 μL isolation buffer. Pada tahap berikutnya, suspensi sel dicampurkan dengan magnetic beads yang telah dicuci (washed) sehingga beads dapat berikatan dengan kompleks antibodi pada sel non-target sebelum proses pemisahan menggunakan magnet
| Image | Image |
![]() Gambar 20. Proses penambahan suspensi sel dengan cocktail |
![]() Gambar 21. Proses sentrifugasi |
Sembari menunggu proses inkubasi antibodi cocktail sebelumnya, EasySort™ Mouse NK Beads Streptavidin 1.0-N dipersiapkan melalui proses pencucian (washing) menggunakan isolation buffer sebelum dicampurkan dengan suspensi sel yang telah diberi antibody cocktail. Sebanyak 21 μL beads ditambahkan pada flow cytometry tube yang berisi 1mL isolation buffer. Kemudian tube diletakkan pada magnetic rack seperti pada Gambar 24. Campuran tersebut kemudian diinkubasi kembali selama 5 menit sehingga magnetic beads dapat berikatan dengan kompleks antibodi pada sel non-target. Setelah 5 menit dan terlihat larutan menjadi jernih dan beads tertarik pada bagian dalam magnet, kemudian supernatan dibuang dan tube dipindahkan dari magnetic rack.
| Image | Image |
![]() Gambar 22. Penambahan beads pada flow cytometry tube |
![]() Gambar 23. Penambahan isolation buffer |
![]() Gambar 24. Proses washing |
![]() Gambar 25. Beads yang telah dicuci |
Magnetic beads yang telah dicuci kemudian dicampurkan dengan suspensi sel, dihomogenkan secara perlahan menggunakan teknik pipette up and down, lalu diinkubasi selama 5 menit pada suhu ruang. Pada tahap ini, streptavidin pada magnetic beads akan berikatan dengan antibodi biotin yang telah melabeli populasi sel non-target sehingga membentuk kompleks sel–antibodi–magnetic beads.

Gambar 26. Proses inkubasi suspensi sel dengan beads
Selanjutnya, isolation buffer ditambahkan hingga volume akhir mencapai 2,5 mL, kemudian suspensi sel kembali dihomogenkan hingga tidak terlihat lagi agregat magnetic beads. Tabung kemudian ditempatkan pada EasySort™ Seven-5 Magnet selama 5 menit. Medan magnet akan menarik magnetic beads beserta sel non-target yang terikat ke dinding tabung, sementara Mouse NK Cell tetap berada dalam suspensi (untouched cells).

Gambar 27. Proses isolasi sel dengan negative sorting method
Dengan tabung tetap berada pada magnetic rack, suspensi yang mengandung Mouse NK Cell dipindahkan secara hati-hati ke tabung sentrifugasi baru. Suspensi ini merupakan hasil isolasi pertama (first isolation).

Gambar 28. Penambahan isolation buffer ke dalam tube
Untuk meningkatkan kemurnian sel, proses pemisahan magnetik dilakukan kembali dengan menambahkan isolation buffer hingga volume 2,5 mL, menghomogenkan suspensi, kemudian menginkubasinya pada magnetic rack selama 5 menit. Suspensi hasil isolasi kedua (second isolation) kemudian digabungkan dengan hasil isolasi pertama.

Gambar 29. Pemindahan supernatan ke centrifuge tube baru
Sebagai tahap akhir, suspensi sel disentrifugasi pada 300 × g selama 5 menit, supernatan dibuang, dan pelet sel disuspensikan kembali menggunakan buffer yang sesuai dengan kebutuhan aplikasi downstream, seperti flow cytometry, kultur sel, maupun functional assay.
4. Verifikasi Menggunakan Flow Cytometry
Untuk mengevaluasi keberhasilan proses EasySort™ Magnetic Cell Isolation, hasil isolasi diverifikasi menggunakan flow cytometry. Sebelum proses akuisisi, disiapkan empat tabung dengan komposisi yang berbeda sebagai kontrol dan sampel uji (Tabel 1). Seluruh sampel kecuali blank, diberi pewarnaan menggunakan antibodi CD45, CD3, dan CD161 (NK1.1) sesuai Tabel 2.
Tabel 1. Preparasi Sampel Untuk Analisis Flow Cytometry
| Tube | Komposisi | Tujuan |
| Blank (Unstained Control) | Suspensi sel tanpa antibodi | Digunakan sebagai kontrol negatif untuk mengatur baseline instrumen, mengidentifikasi autofluoresensi sel, serta membantu proses penentuan gating. |
| Unsorted | Suspensi sel sebelum isolasi + CD45, CD3, dan CD161 (NK1.1) | Menentukan proporsi awal populasi NK Cell sebelum dilakukan proses Magnetic Cell Isolation. |
| 1 Assay | Suspensi sel hasil isolasi pertama + CD45, CD3, dan CD161 (NK1.1) | Mengevaluasi kemurnian NK Cell setelah satu kali proses isolasi menggunakan EasySort™. |
| 3 Assay | Suspensi sel hasil isolasi kedua (3 assay) + CD45, CD3, dan CD161 (NK1.1) | Mengevaluasi peningkatan kemurnian NK Cell setelah proses isolasi lanjutan. |
Tabel 2. Jenis antibodi yang ditambahkan pada sampel
| Marker | Target | Fungsi |
| CD45 | Pan-leukocyte marker | Mengidentifikasi seluruh populasi sel leukosit sebagai langkah awal proses gating. |
| CD3 | T lymphocyte | Digunakan untuk mengeksklusi populasi sel T sehingga tidak terhitung sebagai NK Cell. |
| CD161 (NK1.1) | Natural Killer Cell | Mengidentifikasi populasi NK Cell. Sel CD3⁻ NK1.1⁺ dikategorikan sebagai Mouse NK Cell. |

Gambar 30. Tiga jenis antibodi yang ditambahkan pada sampel
Selanjutnya dilakukan analisis flow cytometry untuk membandingkan populasi NK Cell sebelum dan sesudah proses isolasi.
Tabel 3. Hasil Pengamatan dengan Flow Cytometry
| Image | Image | Image |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Sebelum proses isolasi, populasi NK Cell hanya mencapai 3,92% dari populasi limfosit yang dianalisis. Hal ini menunjukkan bahwa NK Cell merupakan sebagian kecil dari keseluruhan sel imun yang terdapat pada jaringan spleen sehingga diperlukan proses pemurnian sebelum digunakan pada penelitian lanjutan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sebelum dilakukan proses isolasi, populasi NK Cell hanya sebesar 3,92% dari populasi limfosit. Setelah dilakukan EasySort™ Magnetic Cell Isolation, kemurnian NK Cell meningkat secara signifikan menjadi 93,06% pada 1 Assay yang menunjukkan bahwa metode negative magnetic selection mampu memperkaya populasi sel target secara efektif.
Tabel 4. Hasil Analisis
| Sampel | Persentase NK Cell (%) |
| Unsorted | 3,92 |
| 1 Assay | 93,06 |
| 3 Assay | 95,01 |
Sebagai bagian dari demonstrasi, Mr. Chen juga menunjukkan fleksibilitas workflow EasySort™ dengan menjalankan tiga assay yang berasal dari satu sampel yang sama. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa satu kit dapat digunakan untuk melakukan beberapa reaksi isolasi secara efisien sesuai kapasitasnya sehingga membantu mengoptimalkan penggunaan reagen dan waktu kerja di laboratorium. Hasil flow cytometry menunjukkan bahwa kemurnian NK Cell pada 3 Assay mencapai 95,01%, sedikit lebih tinggi dibandingkan hasil 1 Assay yang menunjukkan bahwa pembagian satu sampel ke dalam beberapa assay tetap menghasilkan performa isolasi yang konsisten.
Hasil analisis tersebut menunjukkan peningkatan kemurnian NK Cell tidak terlepas dari metode negative selection yang diterapkan pada EasySort™ Magnetic Cell Isolation Kit. Berbeda dengan metode positive selection, pada pendekatan ini hanya populasi sel non-target yang dilabeli menggunakan antibodi dan magnetic beads, sedangkan sel target tidak mengalami pelabelan.
Pada metode positive selection, target cell akan berikatan langsung dengan antibodi dan magnetic beads sehingga dapat dipisahkan menggunakan medan magnet. Meskipun mampu menghasilkan kemurnian yang tinggi, keberadaan antibodi atau magnetic beads yang masih melekat pada permukaan sel dapat memengaruhi karakteristik biologis sel dan berpotensi mengganggu beberapa aplikasi downstream.
Sebaliknya, EasySort™ menggunakan pendekatan negative selection, yaitu hanya sel yang tidak diinginkan (non-target cells) yang diberi label. Ketika tabung ditempatkan pada magnetic rack, sel non-target akan tertahan oleh medan magnet, sementara target cell tetap berada di dalam suspensi sebagai untouched cells, tanpa terikat antibodi maupun magnetic beads.
Pendekatan ini membantu mempertahankan viabilitas, karakteristik biologis, dan fungsi fisiologis sel sehingga sangat sesuai untuk berbagai aplikasi downstream, seperti flow cytometry, kultur sel, functional assay, uji proliferasi, analisis ekspresi gen, maupun penelitian yang memerlukan sel hidup dengan kualitas tinggi. Dengan kombinasi kemurnian tinggi dan sel target yang tetap utuh (untouched), EasySort™ menjadi solusi yang efektif untuk mendukung berbagai penelitian di bidang imunologi, biologi sel, dan terapi berbasis sel.
Melengkapi Workflow Penelitian dengan Human IL-6 ELISA
Setelah mempelajari proses isolasi sel menggunakan EasySort™ Magnetic Cell Isolation, pelatihan dilanjutkan dengan sesi Hands-on Human IL-6 ELISA yang dipandu oleh Mr. Li dan Ms. Jie menggunakan Human IL-6 ELISA Kit (E-EL-H6156). Sesi ini memberikan pemahaman mengenai kuantifikasi biomarker untuk mengevaluasi respons biologis setelah diperoleh populasi sel target.

Gambar 31. Foto bersama Mr. Li (Technical Support ELISA) dan Ms. Jie (QC Team)
Interleukin-6 (IL-6) merupakan salah satu sitokin proinflamasi yang berperan penting dalam regulasi sistem imun. Peningkatan kadar IL-6 banyak dikaitkan dengan berbagai kondisi, seperti inflamasi kronis, penyakit autoimun, infeksi, hingga kanker. Oleh karena itu, pengukuran kadar IL-6 secara akurat menjadi bagian penting dalam berbagai penelitian biomedis maupun pengembangan terapi.

Gambar 32. Produk Human IL-6 ELISA Kit (E-EL-H6156)
Hands-on Sandwich ELISA
Selama sesi praktik, kami melakukan seluruh tahapan sandwich ELISA sesuai dengan protokol Human IL-6 ELISA Kit. Pengerjaan ELISA pada pelatihan ini menggunakan prinsip kerja metode sandwich yakni di mana molekul IL-6 dalam sampel akan ditangkap oleh antibodi yang telah terlapisi pada dasar sumur (capture antibody) kemudian dideteksi menggunakan antibodi deteksi dan sistem enzim HRP. Reaksi antara HRP dan substrat TMB menghasilkan perubahan warna yang sebanding dengan konsentrasi IL-6 dalam sampel sehingga dapat dihitung melalui kurva standar.
Berikut adalah prosedur kerja dari kit E-EL-H6156.
1. Persiapan reagen, larutan standar, dan sampel
Untuk tahapan ini, kit dikeluarkan dari chiller dan disimpan selama 30 menit pada suhu ruang sebelum running. Dalam tahapn ini juga dibuat serial dilusi standard yang akan ditambahkan pada wellplate. Dipersiapkan wash buffer dengan menghitung berapa banyak pencucian dan berapa well yang digunakan dalam running tersebut. Apabila mencuci secara manual, maka wash buffer sebanyak 250μL dapat digunakan karena apabila menggunakan 350μL dikhawatirkan cairan aku keluar dari well dan tercampur satu sama lain.
2. Penambahan 100 μL larutan standar atau sampel ke setiap well microplate kemudian inkubasi selama 90 menit pada suhu 37°C.
Selama proses inkubasi berlangsung, kami melakukan perhitungan volume dilution buffer yang diperlukan untuk menyiapkan larutan kerja (working solution) Biotinylated Detection Antibody pada tahapan berikutnya.
3. Setelah inkubasi selesai, cairan dalam well dibuang dan dilakukan penambahan 100 μL Biotinylated Detection Antibody. Well plate diinkubasi selama 60 menit pada suhu 37°C.
Sebagai persiapan tahapan selanjutnya, dilakukan perhitungan kebutuhan volume HRP Conjugate Diluent yang akan ditambahkan ke concentrated HRP Conjugate untuk menghasilkan working solution dengan konsentrasi yang sesuai berdasarkan jumlah well yang digunakan.
4. Pencucian (washing) microplate sebanyak 3 kali.
5. Penambahan 100 μL HRP Conjugate dan inkubasi selama 30 menit pada suhu 37°C.
6. Pencucian (washing) microplate sebanyak 5 kali.
7. Penambahan 90 μL TMB Substrate dan inkubasi selama 15 menit pada suhu 37°C hingga terbentuk perubahan warna.
Pada tahap penambahan TMB Substrate, sebaiknya proses loading ke setiap well dilakukan secara bersamaan menggunakan multichannel pipet agar waktu reaksi antarwell tetap seragam, sehingga menghasilkan perkembangan warna yang konsisten dan meningkatkan akurasi hasil pembacaan absorbansi.
8. Penambahan 50 μL Stop Solution untuk menghentikan reaksi.
Sama seperti pada tahap penambahan TMB Substrate, Stop Solution ditambahkan menggunakan multichannel pipet untuk meminimalkan perbedaan waktu penghentian reaksi antarwell, sehingga meningkatkan konsistensi dan akurasi hasil ELISA.
9. Pembacaan nilai absorbansi pada panjang gelombang 450 nm menggunakan microplate reader.
10. Pembuatan kurva standar dan perhitungan konsentrasi sampel.
| Image | Image |
![]() Gambar 33. Diskusi mengenai perhitungan Wash Buffer, larutan standar, Biotinylated Detection Antibody working solution, dan HRP Conjugate working solution. |
![]() Gambar 34. Pembuatan serial dilusi standard |
![]() Gambar 35. Proses sentrifugasi serial dilusi yang telah dibuat |
![]() Gambar 36. Proses loading standard dan sampel ke dalam well |
![]() Gambar 37. Proses inkubasi wellplate |
![]() Gambar 38. Proses penambahan Biotinylated Detection Antibody working solution |
![]() Gambar 39. Proses membuang larutan dari well sebelum pencucian |
![]() Gambar 40. Proses loading wash buffer pada setiap well |
![]() Gambar 41. Proses mengetuk sisi (pinggiran) microplate secara lembut selama proses pencucian |
![]() Gambar 42. Proses penambahan TMB Substrate |
![]() Gambar 43. Proses penambahan stop solution |
![]() |
Tips Praktis dari Mr. Li
Selain membahas teori dan prosedur, Mr. Li juga membagikan berbagai pengalaman praktis yang diterapkan di laboratorium Elabscience untuk memperoleh hasil ELISA yang optimal. Salah satu tips yang menarik adalah penggunaan dua tahap penekanan pada mikropipet sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Untuk mengambil larutan yang tersedia dalam jumlah cukup banyak, seperti wash buffer, diluent, atau reagen lainnya disarankan menggunakan stop kedua (second stop) sehingga proses aspirasi menjadi lebih cepat dan memudahkan pengambilan volume secara konsisten. Sebaliknya, saat mendistribusikan standar, sampel, maupun reagen ke dalam sumur microplate disarankan menggunakan stop pertama (first stop) agar volume yang dikeluarkan lebih presisi dan mengurangi risiko variasi antar sumur.
Selain itu, proses aspirasi sebaiknya dilakukan secara perlahan untuk meminimalkan terbentuknya gelembung udara (bubble) di dalam tip. Sementara itu, pada saat dispensing, plunger sebaiknya ditekan dengan gerakan yang mantap hingga second stop agar seluruh larutan keluar sempurna dan tidak meninggalkan gelembung atau sisa cairan di ujung tip yang dapat menyebabkan ketidakkonsistenan volume pada setiap well.

Gambar 45. Proses pengambilan reagent dengan stop dua dan aspirasi dengan stop satu
Beliau juga menekankan bahwa keberhasilan pengujian ELISA tidak hanya ditentukan oleh kualitas kit, tetapi juga oleh konsistensi teknik operator. Ketelitian dalam pipetting, ketepatan waktu inkubasi, serta proses washing yang menyeluruh merupakan faktor penting untuk meminimalkan background signal, menghasilkan kurva standar yang baik, serta memperoleh data yang akurat dan dapat direproduksi.

Gambar 46. Proses analisis nilai absorbansi
Pada sesi pelatihan, hasil pengujian menunjukkan bahwa kurva standar terbentuk dengan baik, ditandai dengan nilai absorbansi yang menurun secara konsisten pada setiap konsentrasi standar. Replikasi (duplicate) antar standar juga menunjukkan hasil yang seragam, mencerminkan konsistensi proses pipetting dan pelaksanaan prosedur selama pengujian.

Melalui sesi ini, kami tidak hanya mempelajari tahapan teknis pengujian menggunakan Human IL-6 ELISA Kit, tetapi juga memahami pentingnya good laboratory practice dalam menghasilkan data yang andal. Pengalaman hands-on ini memberikan gambaran bahwa keberhasilan analisis biomarker tidak hanya bergantung pada performa kit, tetapi juga pada teknik kerja yang tepat selama seluruh proses pengujian.
WhatsApp us